Senin, 27 Desember 2010

Rambu lalu lintas...



Kemarin pagi gue pergi ke salah satu mall yang ada di Jakarta dengan taksi. Ceritanya sih mau buru – buru. Deilee… Ke mall aja buru – buru. Anyway, setelah menyebutkan tujuan gue sekalian gue meminta supir supaya lewat suatu jalan tertentu yang jadi lebih deket ke mall itu daripada muter – muter lewat jalan lain. Sambil gue ngomong si supir ngelirik ke jam.

“Udah jam 10 kok pak, jadi kita sudah bisa lewat sana,” gue berusaha menenangkan pak supir.


“Iya sih bu, tapi ini baru jam 10 lewat dikit… ,” jawab pak supir. “Saya kuatir aja nanti jam saya sama jam ibu dan sama jam polisi yang lagi patrol beda – beda…”

Gue jadi mikir, bener juga sih. Kalau jamnya pak polisi masih kurang dari jam 10 pagi dan kita melaju begitu saja dengan sukses ya alamat kita bakal jadi sasaran empuk banget. Jadi gimana dong?

“Yah, gini ajah deh pak,” akhirnya gue berusaha memberi usul ke si pak supir. “Kita melaju aja deh sambil liat – liat suasana. Kalau ada mobil lain yang melaju ya kita ikutan… Kalau gak ada ya ambil jalan lain deh…”
Pak supirnya setuju. Toh, kita masih harus berhenti beberapa kali karena lampu merah. Pastinya udah lewat jam 10 dong sesampainya kita disana.


Dan dengan deg – degan gue dan pak supir pun menengok kanan kiri mencari sekongkolan untuk melewati jalan tersebut. Dan ternyata mobil sebelah dan taksi yang gue naikin ini lolos dengan nilai sempurna melewati jalan tersebut. Hhhhh…

Kadang nih orang suka merasa halah gue kan penumpang. Jadi gue rajanya nih, supir harus tau dong jalan yang lebih singkat dan gak pernah kena macet (masih ada apa?) dan juga apal rambu – rambunya. Yah, boleh – boleh aja sih merasa begitu namanya juga kita yang keluar uang. Tapi gak ada salahnya juga kan kalau kita juga memperhatikan rambu – rambu lalu lintas juga? Misalnya pada jam tertentu jalanan ini tidak boleh dilewati. Baru boleh dilewati antara jam segini sampai jam segitu. Mana kita tahu kalau suatu hari kita membawa mobil sendiri? Tentunya lebih enak kalau kita juga tau jalan dan peraturan kan?

Yah, ini sih hanya usulan ajah kok…

BTW, kali ini gue beneran cabut seminggu yaaaa.... (emang ada yg nanya? Hehehehe) ...

Mengucapkan selamat HARI NATAL untuk yang merayakan dan bagi yang gak...selamat menikmati hari libur... (walau hari Sabtu...hiks)

Sabtu, 25 Desember 2010

Jumat, 24 Desember 2010

Koridor busway

Tadi ngebaca di Jakarta Globe tentang koridor busway terpanjang yang akan menghubungkan setidaknya 9 mall, 6 universitas dan 8 rumah sakit. Untuk jelasnya bisa langsung baca ke website berita tersebut... Denger - denger sih tanggal 31 Desember 2010...

Hahahaha, pas banget beberapa minggu yang lalu gue iseng foto - foto koridor busway yang puanjang banget berlokasi di dekat Plaza Semanggi...dan sambil mikir, mau jadi apa nih koridor?

Wah, seru juga kalau ada koridor yang langsung nembus mall :D




















Rabu, 22 Desember 2010

Selamat HARI IBU

Foto - foto ini diambil pas gue lagi naik busway...

Kata - kata di dalam foto ini menasehati orang agar bermatabat dengan memberikan tempat duduk kepada yang lebih membutuhkan... MASAK SEEH?



Foto yang lain memperlihatkan nomor identitas busway dengan nomor telepon jika membutuhkan : 021 7228727
Ada juga permintaan untuk tidak merokok, utamakan penyandang cacat, orang lanjut usia dan wanita hamil. Serta dilarang makan minum dalam bus dan kecepatan maksimal 50 km/jam (lah, siapa yg ngawasin?)



Eh iya, hari ini kan HARI IBU... Jadi, bagaimana kalau kita merayakan hari tersebut dengan memberikan tempat duduk pada orang yang lebih tua dan para wanita hamil?

Senin, 20 Desember 2010

Pengamen

Lagi iseng aja post gambar - gambar pengamen di bus

Pengamen buta dengan loudspeaker-nya

Dengan gitar ku menyanyiiiii

Menyanyi soloooo


Ngamen sekalian bawa anak

Jumat, 17 Desember 2010

Foto - foto iseng

Tadi malam Indonesia menang lawan Filipina 1 : 0!! Yayyyyy! Hahahaha, out of topic banget sih gue...  Yah, berhubung gue sejak kemarin sore sudah mengamankan diri dirumah jadi gue gak tau lah situasi di jalan seperti apa setelah pertandingan usai. Yang pasti sih macet... Tapi paling gak kerusuhan terhindari...

Jadi hari ini hanya memuat foto - foto yang iseng gue ambil pas lagi naik busway...

Di Jakarta nih ada 3 macam warna busway... yang gue tau loh... Heheheheh



Ingat gak artikel sebelumnya mengenai tips dari DETIK yang menganjurkan jangan bergerombol? Foto dibawah ini menunjukkan bagaimana orang suka ngumpul di pintu. Pintu yang terletak di kanan dan kiri badan bus itu terlihat dikerumunin orang kan? Ini kebetulan ajah lagi sepi


Nah, kalau yang ini menunjukkan situasi orang yang mau turun dari busway menuju halte busway... Kalau kebetulan pintu busway ada dua, penumpang bisa turun di pintu belakang dan yang naik bisa melalui pintu depan. Tapi kalau hanya satu, biasanya digilir sama SatGas Busway supaya jangan sampai orang yang mau keluar jadi terhambat gara - gara yang mau masuk langsung nyeruduk aja ke dalam

Rabu, 15 Desember 2010

Tips dari detik.com

Gambar ini gue foto di salah satu halte busway yang judulnya 5 Tips Nyaman naik Trans Jakarta dari Detik  :


1. Antri dengan tertib . Ikuti arahan petugas...
Huhuhuh, yakin tuh orang - orang bisa mengantri dengan tertib sambil mengikuti arahan para petugas kalau lagi rame? Dueh... gak janji deh...
Kalau sedang panik karena terlambat atau memang dasarnya senang terbirit - birit..., kenyamanan jadi masalah kesekian. Yang penting cepat sampai dan kalau perlu seruduk aja apapun yang menghalangi

2. hati - hati saat melangkah naik atau saat turun bus.
Yang ini mau tidak mau dalam keadaan buru - buru seperti apapun harus diikuti karena memang berbahaya kalau main melangkah begitu saja. Jarak dari lantai bus ke lantai halte itu bisa sekitar 20 cm kali.



3. Jangan berdiri bergerombol, isilah bagian bus yang kosong.
Masalahnya, kalau jarak tempuhnya dekat penumpang jelas ogah untuk berada di posisi yang jauh dari pintu. Semua mikirnya sama dan berkehendak sama. Maunya gak repot pas mau turun. Lah, ngapain juga repot - repot ke belakang kalau sebentar lagi sudah mau turun?

4. Biasakan mengingat waktu, jurusan & nomor bus yang anda tumpangi
Mengingat jurusan sih oke deh... Lah iyalah, masa mau ke Ancol naik busway yang ke Ragunan?
Tapi mengingat waktu..., ehm... memangnya pernah ya busway dan bus - bus yang beroperasi di Jakarta itu bisa tepat, pat, pat waktu? Beda - beda tipis 5 menit aja itu udah bonus!
Nah, nomor bus yang ditumpangi... Ini maksudnya buat naik bus biasa atau busway? Apa busway ada nomor seperti bus - bus biasa? Setau gue sih memang ada nomor identitas bus tapi kayaknya itu bukan patokan yang perlu buat dihapal deh...

5. Jika mengalami gangguan keamanan laporkan segera kepada petugas.
Hal ini pernah gue saksikan sendiri ketika orang yang kecopetan langsung melapor sama petugasnya. Dan lo tau apa yang terjadi? Buswaynya melaju langsung ke tujuan terakhir tanpa berhenti - henti lagi. Penumpang yang gak mencopet dan perlunya turun di halte sebelum halte terakhir jelas jadi gondok. Mana pas keluar pake diperiksa segala tasnya... Tentunya hal ini percuma saja kalau si pencopet udah keburu turun dan si penumpang terlambat menyadari.
Tapi setidaknya ada tindakan langsung dari para petugas.

Senin, 13 Desember 2010

Komentar gak mutu


Temen gue kemarin bercerita soal pengalaman konyolnya dengan seorang supir taksi. Jadi ceritanya kendaraan yang ia tumpangi itu berhenti mepet dengan rel kereta. DIperkirakan jika ada kereta lewat dengan kecepatan tinggi maka bisa dipastikan taksi itu akan ikut tersambar dengan sukses. Jadi karena melihat kereta masih belum terlihat walau sudah ada tanda peringatan temen gue mengusulkan untuk melaju saja terus. Daripada berhenti tapi posisinya membahayakan seperti itu kan lumayan bikin deg – degan juga. Dan jawaban sang supir taksi itu adalah,”Oh, jadi kita harus terus aja ya? Yah, saya khan tidak ingin membahayakan penumpang…”
Duh paaak, bagus sih memang tidak ingin membahayakan penumpang tapi kalau berhentinya di dekat rel itu sama saja memberikan bahaya langsung pada diri sendiri dan pastinya juga pada penumpangnya…

Gue bilang, itu masih mending… Gue pernah mengalami yang lebih brengsek lagi dari supir mikrolet. Kebetulan gue duduk di depan. Si supir ini awalnya ngajak ngobrol basa basi gitu jadi karena gak enak kalau gak diladenin ya gue jawab deh seadanya. Eh, lama – lama obrolannya itu jadi kurang ajar dan gue udah mulai kesel. Tapi dasar merki, bukannya turun gue malah tetap aja bertahan di mikrolet itu. Sampai pada akhirnya kita harus melewati rel kereta dan dia dengan cueknya melaju terus. Gue bilangin dong apa gak mendingan dia sabar aja nunggu kereta itu lewat… Eh, lo tau gak dia bilang apa?
“Kenapa? Kau takut mati ya? Banyak dosamu? Saya sih gak punya dosa… Makanya gak takut lah aku mati…”


Jiaaah, elo kalau mau mati gih sono mati sendiri… Jangan ajak – ajak orang…! Reseh banget tuh supir!

Jumat, 10 Desember 2010

Pegangaaaan

Salah satu hal paling dasar yang mesti dilakukan kalau lagi di bus... Pegangan sama apaaa aja yang ada di dekat elo... Kalau enggak, siap - siap aja terpelanting pas supir ngerem atau jatuh ketika supir nge-gass ...








Rabu, 08 Desember 2010

Gak jodoh...

Busway dan hari libur? Sama sekali tidak berjodoh…


Mendengar promosi dulu bahwa hanya dengan sekali membayar maka kita bisa berjalan – jalan mengelilingi Jakarta. Gak salah sih promosi itu. Kalau di Jakarta hanya ada kamu sendirian yang mau naik busway keliling kota.


Dua tahun yang lalu gue kedatangan sepupu dari luar kota. Karena orang tua gue baru aja keluar dari rumah sakit jadi kita jarang bawa jalan kemana – mana. Jadi dalam rangka pengen nyeneng – nyenengin dia, gue kepikiran mau bawa jalan – jalan dengan busway. Kebetulan ada dua orang keponakan yang juga lagi ada dirumah pas liburan Lebaran. Gue pikir kan pas banget tuh. Lagi liburan dan pastinya gak bakal rame dong sama para pegawai kantoran. Bisa aman sejahtera deh ngebawa mereka semua. Begitu pikiran gue…

Jadi pas hari pertama liburan Lebaran itu gue pun mengajak sepupu dan ponakan gue menuju halte busway terdekat. Mereka jelas senang dong secara belum pernah naik busway… Pas naik dari halte terdekat itu gue rada kaget… Loh…kok orangnya banyak banget ya… Sampai kita gak hanya harus berdiri tapi harus nyelip sana sini supaya dapat tempat berdiri yang enak. Gawat, begitu pikir gue. Apa karena kesiangan ya…
Dan bener aja loh… Begitu sampai di halte transit ternyata calon pengguna busway itu lebih banyak lagi… Apalagi yang menuju ke tempat – tempat wisata yang pastinya bakal dikunjungin sama anak – anak yang lagi menikmati liburan. Yah, gaswat deh. Alamat gak jadi nih ngajakin mereka ke tempat yang gue tadinya ingin gue tuju. Akhirnya gue merubah tujuan gue ke tempat lain dan mampirlah kita semua ke halte transit berikutnya. Yang ternyata sodara – sodara…lebih parah lagi ngantrinya daripada halte transit yang sebelumnya. Wah, bener – bener buyar deh rencana gue ngajakin mereka semua keliling Jakarta. Satu, gue ngeri juga kalau sampai terpisah dari ponakan gue yang masih kecil – kecil. Kedua, apanya yang enak kalau harus ngantri lama, berpanas - panasan dan mesti beresiko keinjek – injek sama orang lain kalau lagi berebutan naik? Mungkin kalau hanya berdua sepupu gue masih gak apa. Paling enggak biar dia tau deh suasana kalau sedang berebutan naik busway.
Selidik punya selidik, memang sih kalau lagi hari libur kebanyakan orang Jakarta telah melarikan diri ke kota – kota lain atau bahkan Negara lain. Tapiii, bukan berarti Jakarta otomatis jadi sepi. Karena penduduk yang tinggal di daerah luar tapi tidak jauh dari Jakarta pun berdatangan. Dan punya niat yang sama seperti gue. Untuk keliling Jakarta dengan biaya yang murah. Walau untuk itu mereka harus rela untuk ngantri dalam waktu yang tidak singkat, banjir keringat, resiko kecopetan dan keinjek – injek saat berdesakan naik ke busway. Keinginan gue jelas tidak setinggi mereka…

Hehehe… Jadi buat teman – teman yang ingin mencoba keliling Jakarta ketika sedang liburan nasional…yah, siap – siap mental dan fisik aja… Karena Jakarta tidak sesunyi dan sesepi yang kita bayangkan… Bus biasa sih memang sepi penumpang tapi sayangnya tidak dengan busway…

Cape dheee

Minggu, 05 Desember 2010

Permisssiiii

Teman - teman,

Bulan Desember ini permisi nulis seminggu sekali aja ya ... Nanti January 2011 balik lagi deh tiga kali dalam seminggu...

Tapi tetap mampir dan baca - baca ya disini :)

Jumat, 03 Desember 2010

Mau nyetir apa chatting?

Temen gue ngirim berita bahwa mulai kemarin polisi mulai menilang dan mendenda sebesar Rp 750,000 bagi para pengemudi yang sibuk beraktivitas sama handphone sementara mereka seharusnya berkonsentrasi dalam mengemudikan kendaraannya.

gambar diambil dari : http://news.okezone.com/read/2010/12/02/338/399216/sanksi-tilang-pengemudi-pakai-hp-digenjot

Yah memang paling kesel deh ngeliat bagaimana orang sibuuk banget sama handphonenya dimana saja tanpa sadar situasi sekitarnya... Sekarang coba pikir, bagaimana bisa berkonsentrasi mengemudi kalau salah satu tangan sibuk dengan handphone? Kalau menurut gue memakai handsfree juga sama ajah sebenarnya... Si pengemudi jadi lebih berkonsentrasi sama percakapan yang tengah ia jalani ketimbang memperhatikan jalan.

Sering banget gue ketemu pengemudi kendaraan umum yang asik banget ngobrol, merayu, marah - marah entah sama siapa dengan handphonenya. Sementara kita penumpangnya sudah deg - deg plas karena khawatir kendaraannya bakal nyungsep entah kemana. yah, gue mengertilah jika ada emergency atau hanya sesekali bicara lewat handphone. Tapi kalau sudah bermenit - menit berlalu, lah ini mau nyari duit apa mau ngobrol sih?

Ohya, sekedar informasi link ini mengenai peraturan lalulintas yang melarang orang melakukan kegiatan yang mengurangi konsentrasi dalam menggunakan kendaraan bermotor...  (Sekedar informasi kalau pegel nyari liat langsung aja di halaman 130 baca pasal 283)

Rabu, 01 Desember 2010

Pembicaraan antara orang - orang biasa


Orangtua gue termasuk orang - orang yang doyan ngobrol... Jadi kalau kita sedang naik taksi gak mungkin deh cuman diem - dieman dari berangkat sampai di tujuan. Terkecuali orang tua gue lagi sakit jadi males ngobrol. Dan si supir juga kelihatan jutek jadi boro - boro mau diajak ngobrol. Di liat juga udah males... Cuman berharap duh semoga cepet sampai tempat tujuan.

Kalau bokap gue yang ngobrol maka topiknya gak jauh - jauh soal politik dan situasi NYATA yang ada di masyarakat yang kita yakin banget sebagian besar anggota KEHORMATAN itu gak ada yang ngeh... Mulai segala harga bahan makanan, bahan bakar... semuanya naik kecuali harga diri... Hahaha, jadi curhat... Kalau nyokap biasanya lebih suka nanya ke hal - hal umum... Misalnya si supir asal dari mana... Terus udah berapa lama jadi supir taksi...

Supir : Ati2 ya bu, pelan2 aja masuknya (sama Nyokap gue yang pake tongkat)

Nyokap : Makasih pak. Kita ke .... ya pak...

Supir : Mau jalan dari mana bu? Kalau dari sini bagaimana? Lebih cepet... gak kena macet...

Gue : Boleh deh pak... (gue ngomong boleh karena emang udah tau jalan pintas tersebut... Ati2 loh, supir taksi bukan dewa yang bisa tau kapan jalanan itu macet atau enggak... Kadang iblisnya suka keluar dibilang gak macet tapi kenyataannya macet... Jadi memang harus tau jalan juga)

Nyokap : Asal dari mana pak?

Supir : Dari Purwakarta bu...

Nyokap : Udah lama nyupir di perusahaan ini?

Supir : Oh, kebetulan udah bu... Saya gak pernah pindah - pindah lagi.

Nyokap : Wah, betah nih kayaknya si bapak

Supir : Yah, di perusahaan ini lumayan bu...

Nyokap : lumayan gimana?

Supir : Kita setorannya sekitar 200rb-an. Kalau ada sisa dipotong dulu sama uang bensin baru deh kita bawa pulang tuh sisa pendapatan. Makanya jadi semangat...

Gue : Terus apa lagi pak?

Supir : yah mereka cukup kekeluargaan lah... Kita bisa pinjem duit apalagi kalau ada kebutuhan untuk anak sekolah... dan mobil ini bisa kita cicil jadi milik kita sendiri

Gue : Tapi kalau bapak gak sengaja nabrak atau ditabrak harus ganti sendiri ya?

Supir : iya lah... Khan kita bawa mobil ini keluar dari pool dalam keadaan baik ya pulangnya harus sama

Nyokap : Kok banyak supir suka gak tau jalan sih pak?

Supir : yah bu... Sama aja kayak orang kerja di kantor... kan kalau baru kerja gak langsung bisa... Gituu...

Gue : Pernah ngalamin dapat uang palsu pak?

Supir : Pernah neng... Biayanya 70ribu... Dia memang kelihatan gugup pas ngasih uang seratus ribuan... Tapi saya gak terlalu mikirin jadi saya balikin 30rb... Gak taunya pas sampai di pool uangnya palsu... Jadi saya rugi 130rb

Nyokap : Nanti rejeki datangnya dari tempat lain kok pak...

Supir : Iya bu, amin...


Yah, begitulah kurang lebih percakapan sesama orang biasa tentang situasi yang terjadi sehari - hari dimana kita berusaha melalui hidup dengan usaha sendiri dan halal...

Senin, 29 November 2010

Taksi dan update status


Ada banyak perusahaan yang mengelola taksi di Jakarta. Banyak diantara mereka yang bagus dan tentunya banyak juga yang enggak. Dan itu termasuk diantaranya ada supir yang merampok penumpangnya sendiri sampai menyisakan trauma bagi si penumpang. Kebanyakan terjadi sama penumpang wanita yang baru pulang kerja pas udah malem. Tapi ada juga kejadian perampokan yang terjadi di siang bolong.

Kayaknya kita harus mengandalkan insting setiap kali kita manggil taksi. Kalau kita rame - rame sama temen sih kita boleh aja gak peduli sama situasi menyeramkan yang ada di taksi itu. Yang gue maksud menyeramkan adalah kuncinya otomatis dari tempat supir, terus gak ada puteran buat buka jendela atau jendelanya juga ketutup otomatis dari tempat supir. Kalau cuman ada satu atau dua penumpang si supir bisa membawa taksinya ke tempat sepi dimana temen - temennya yang mau ngerampok udah nunggu. Kalau kata gue, begitu kita merasa paranoid pas menggunakan suatu taksi maka jangan segan - segan buat ngebatalin deh.

Ada dua macam taksi di Jakarta. Yang menggunakan tarif lebih mahal, tarif yang standard sama tarif yang murah. Walau murah, gak berarti taksi - taksi ini ngasih service yang jelek. Sekali lagi, ini semua tergantung sama supirnya. Gue pernah menggunakan taksi yang udah terkenal bagus. Tapi jauh sebelum sampai di tujuan gue turun karena bete sama supirnya. Biasanya supir suka nanya kita mau lewat mana kalau mau kesana. Yang ini udah gak nanya tapi dibilangin malah ngeyel. Jadi daripada gue bete, mending gue langsung turun aja deh.

Jadi, gue gak akan bikin daftar taksi mana yang bagus dan mana yang enggak. Biasanya di kantor, airport, hotel dan mall sih suka kerja sama dengan perusahaan taksi tertentu jadi bolehlah mereka bisa dipercaya.

Kadang ada supir taksi yang doyan ngobrolin hal - hal yang fun dan bisa dinikmati. Ada juga yang bikin bete dan akhirnya kita cuman jawab iya, tidak, he-eh, hmmm supaya gak banyak omong lagi. Mungkin lo gak percaya api supir - supir yang masih baru itu kebanyakan gak tau jalan. Sukur - sukur ada yang langsung ngaku. Tapi ada juga yang diem - diem aja dan akhirnya nyasar sampai kita jadi ngamuk.

Hati - hati sama supir yang hobi bertelepon dengan HAPE karena mereka jadi gak konsen di jalan. Ada juga yang suka ngantuk jadi harus diajakin ngobrol kalau gak bablas deh.


Sekedar tambahan, kayaknya kita harus mulai menggunakan kecanduan update status di semua social networking yang kita punya kalau lagi naik taksi. Misalnya, kita lagi naik taksi : BB. Begitu naik, update tuh status bahwa kita lagi di taksi BB yang nomor pintunya sekian. Kalau perlu, tambahin sama detil nama supir dan ID pegawai dia yang biasanya ada di dashboard. Kenapa gue usulin ini? Ya siapa tau aja ada barang ketinggalan di taksi itu. Pas kita mau claim kita bisa sebutin data lengkap kita naik taksi apa dengan nomor ID taksi di pintunya. Tentunya kalau si supir yang nemu mungkin dia simpan siapa tau diminta balik penumpang. Gak janji ya kalau penumpang lain yang menemukan dan mereka diem - diem aja. Jadinya perusahaan taksi bisa aja berdalih mereka gak bisa bantu mengembalikan barang.

Jadi, jangan cuman pake social networking kita untuk update status kita lagi bete, atau lagi di mall, lagi dijalan. Gunakan juga buat hal - hal seperti ini. Siapa tau kelak ada gunanya ^____^

Jumat, 26 November 2010

Usaha terus...

*Gambar - gambar ini tidak menggambarkan kejadian yang gue ceritakan tapi hanya untuk illustrasi buat yang gak tau busway kayak apa*


Apa sih bedanya naik bus, mikrolet, metromini dan kopaja?
Teorinya sih mereka semua seharusnya menaikkan dan menurunkan penumpang di halte yang telah tersedia.
Prakteknya? Jelas tidak dooong…
Siapa yang salah? Kalau gue bilang ya baik penumpang maupun si pengemudi jelas salah dua – duanya.
Si penumpang kan maunya enak. Begitu ada bus yang menuju kea rah yang ia inginkan langsung dong dipanggil. Kalau ia harus berjalan ke halte dulu, aduh capee dhee…  Bisa – bisa ia ketinggalan bus dan harus nunggu lagi. Bisa tewas di jalan tuh kalau harus menunggu lebih lama lagi. Udah menunggu lama, gak taunya penuh pula.

Pas mau turun juga sama aja dong. Masa kita mau turun di dekat pasar, eh tapi harus turun di halte yang masih jauh dari pasar? Jadi kita mesti jalan lagi? Gak praktis banget dah… Maunya kalau kita bilang stop sekarang ya supirnya kudu berhenti dong.
Trus si pengemudi? Jelas dia gak mungkin nyuekin penumpang yang mau naik. Biarpun naiknya bukan di halte yang semestinya. Masa si supir mau nolak rejeki atas nama disiplin? Nah, pas nurunin penumpang jelas dia mesti dengerin teriakannya penumpang kalau gak mau dengar para penumpang marah – marah karena tempat mereka turun jadi jauh banget.

Mungkin sejauh ini yang disiplin menurunkan penumpang di halte yang semestinya ya cuman busway. Ya iyalaaaah…, haltenya aja berada di tengah jalan. Dan pintu di badan busway itu letaknya tinggi loh… Tapi apakah usaha penumpang untuk minta turun di sembarang tempat berhenti hanya karena haltenya yang terletak di tengah jalan? Atau sulit turun karena pintunya yang letaknya tinggi? Oh, tentu saja tidak! Ingat, kita harus selalu berusaha terlebih dahulu sebelum akhirnya mengakui bahwa hal tersebut tidak mungkin dilakukan.
Jadi, busway mempunyai dua pintu lagi yang biasanya digunakan oleh supir dan petugas lainnya untuk naik dan turun lebih gampang.
Tadi gue naik busway ke mangga dua. Ada area kosong di dekat supir yang suka dimanfaatkan orang untuk duduk. Dekat dengan pintu untuk si supir tersebut. Ketika berhenti karena ada lampu merah, sang supir permisi sebentar keluar entah mau ngecek apa. Ketika dia naik lagi dan baru saja duduk seorang penumpang cewek ABG memanggilnya dan terjadilah percakapan singkat berikut:
Penumpang : Pak, pak…

Supir (sok mesra) : Ya, ada apa sayang?
Penumpang : Hmmm, aku boleh turun disini gak pak?
Sopir (agak kurang mesranya) : Maaf, gak bisa sayang…
Penumpang (dengan tersenyum cerah) : Khan bisa lewat pintu ini  (ia menunjuk ke arah pintu yang tadi digunakan sang sopir untuk keluar sejenak)
Sopir (udah gak mesra lagi) : Maaf dek, udah peraturan gak boleh turun sembarangan…
Penumpang (dengan menggumam) : Yah, padahal kalau dari sini kan lebih deket…
Dengan gak peduli, sang sopir langsung tancap gas begitu lampu hijau.
Huahahahaha, nyaho looo! Heran, masih usahaaa ajaaa…


Senin, 22 November 2010

Hujan oh hujan

Apa hubungannya antara hujan sama angkutan umum? Oh jelas ada…

Walau gue seneng kalau ada hujan yang membasahi bumi ini karena MESTINYA bisa membuat udara lebih sejuk… hal ini berlaku sebaliknya kalau gue lagi bengong di jalan menunggu kendaraan ataupun ketika sudah di dalam bus. Mau naik bus biasa kek, patas ac kek… hingga bajaj sama mikrolet…beda – beda tipis deh.
Yang pasti jelas tambah pengap, lembab dan persediaan udara yang semakin menipis… Apalagi kalau hujannya bener-bener deras. Gak ada ujan aja penumpang yang duduk suka ogah membuka jendela. Ya, jelas lah karena mereka tidak mau terkena cipratan air hujan dari luar. Jendela yang tertutup saja tidak menjamin air hujan tidak merembes masuk. Jadi mereka yang duduk pun terpaksa pasrah terkena rembesan air yang masuk tanpa sungkan – sungkan dari jendela.


Sama aja kalau naik bajaj… Biarpun si supir sudah menutup jendela tapi karena bukan jendela permanent maka hujan bercampur angin pun masih bisa memaksa masuk ke dalam bajaj… Dan kalau naik mikrolet pas duduk di dekat pintu…aduh, siap – siap deh masuk angin… Soalnya pintu mikrolet dibagian belakang gak bakal deh ketutup.


Dan kalau ujan, jelas ogah lah yauw gue naik ojek… Tapi kalau sudah keburu naik mau bilang apa lagi? Pernah juga gue udah keburu naik ojek eh pas ditengah jalan dari hujan yang cuman rintik – rintik mendadak jadi deras banget. Wadoh, asli basah kuyub deh gue. Si pengojek juga sempat ketar ketir takut motornya mogok di tengah jalan karena perlahan jalanan mulai rada banjir. Untungnya motornya gak mogok dan walau gue kuyub abis masih untung deh nyampe dengan sukses di tujuan.

Lantas bagaimana penumpang yang berdiri di bus? Apalagi yang baru naik dari luar dan sudah basah kuyub. Entah badannya atau payungnya atau barang-barang bawaannya. Yang bawa payung basah juga bingung mau meletakkan dimana. Akhirnya hanya dipegang saja dan airnya meresap ke baju penumpang lainnya dengan sukses. Baju yang sudah basah dengan hujan itu boro-boro jadi kering. Namun malah bertambah basah oleh keringat karena udara di dalam bis luar biasa panasnya. Pasokan CO2 lebih besar daripada O2 yang beredar dengan minimnya…


Terus naik bus patas AC? Yah, namanya sih boleh patas AC…tapi bus-bus ini kan umurnya udah ada 10 tahun. Gak jelas deh, AC nya diganti apa gak. Yang pasti, AC di beberapa bus sudah mulai mengalami kerusakan. Yang paling top adalah gue pernah naik bus patas AC dalam keadaan yang masih basah sedikit namun turun dalam keadaan basah 70%. Waktu gue duduk di kursi penumpang itu, gue sudah tau banget bahwa diatasnya ada rembesan air. Karena, gak ada penumpang yang mau duduk di kursi itu. Tapi gue pikir, ah kalau hanya sedikit-sedikit menetesnya gak apa-apa lah. Maka duduklah gue dan tidak butuh waktu lama untuk segera terlelap (emang dasarnya tukang tidur ya begitulah). Ketika akhirnya gue terbangun itu bukan dikarenakan badan gue yang sudah hapal akan tempat tujuan. Tapi karena mendadak gue merasa kok jumper gue jadi tambah berat ya… dan tambah dingin di tengkuk… Begitu gue beranjak turun dan menengok ke sandaran tempat duduk… ASTAGA… , sudah ada handuk diletakkan di sandaran kursi untuk menyerap bocoran air. Namun sebagian besar rembesan air itu diserap sama jumper gue! Terpaksa begitu sampai dirumah gue langsung mengkonsumsi obat anti masuk angin. Huh!

 Naik busway sih bisa saja merasakan adem. Tapi mengingat padatnya penumpang, rada di ragukan juga. Dan kalaupun mau adem, harus berdiri di dekat ac yang kalau gak terpaksa karena kedorong sana sini … emang ada yang mau ya? Sudah kena hujan, malah kena dinginnya AC. Yang ada bukannya merasa segar tapi cenut cenut… Tambahan lagi jika sedang hujan maka sepanjang jalan halte busway itu akan menjadi licin dan harus hati – hati ketika melangkah. Dan kalau pas kena jam sibuk dimana calon penumpang lebih banyak dari busway-nya, maka siap – siap aja masuk angina diterjang hujan badai ketika mengantri busway. Atapnya memang tertutup. Tapi bagian kanan dan kirinya kan tidak?

Walau demikian, gue masih bisa berpikir positif… Karena walau gue sudah basah kuyub baik sebelum naik bus ataupun sesudah turun dari bus…setidaknya selama ini gue tidak pernah mengalami bus yang mogok ketika hujan deras. Sudah bisa terbayang betapa menangis bombay deh para penumpangnya dikala harus turun karena bus sama sekali tidak bisa jalan. Dan selama menunggu untuk dipindahkan ke bus lain, harus berada di bawah terpa’an hujan lebat… Apalagi kalau pas nunggu bus ditengah guyuran hujan lebat itu kita berdiri di dekat genangan air yang lumayan gede. Yah, siap –siap aja deh mandi. Mobil dan bus yang lewat itu tidak akan memperlambat laju kendaraan mereka hanya sekadar menjaga supaya tidak cipratan air tidak mengenai orang - orang yang lagi bengong nunggu bus di jalan.

Hujan…oh…hujan…

Jumat, 19 November 2010

Motor lagi motor lagi

Kemarin hari Rabu tgl 17 November gue janjian sama temen ketemuan di mall. Dari area deket rumah sih masih ada angkutan umum. Begitu sampai di jalan besar, walah... gak ada tanda - tanda nih bus bakal lewat. Dan sepertinya busway juga alamat lama nih durasi beredarnya. Akhirnya pas ada taksi kosong lewat langsung deh gue panggil dan duduklah gue di depan.

Ohya, taksi yang gue panggil ini sepintas mirip EXPRESS. Tadinya sempet ragu juga mau naik. Tapi pas masuk gue gak merasa ada yang aneh, jadi gue percaya aja deh yang ini gak bakal terjadi apa - apa dan langsung naik. Maklum, tarifnya tarif bawah jadi jelas menarik gue. Heheheh...

Sepanjang perjalanan sepiii banget. Di Jakarta itu jalanan sepi hanya terjadi jika sehari sebelumnya ada kerusuhan besar - besaran, banjir di hari sebelumnya atau nginep di jalan beramai - ramai. Sama tentunya hari libur nasional dimana hampir semua orang Jakarta sepakat untuk memindahkan macet ke daerah puncak, Bogor dan Bandung... hehehehe... Ini sih yang gue tahu :D

Jadi inilah percakapan gue sama si supir taksi

Gue : Wah, asik banget jalanan sepi begini

Supir : Yah, memang serba salah mbak. Kalau lagi hari biasa macet banget sampai gak bisa jalan dengan leluasa. Giliran lagi libur begini memang enak jalanan jadi gak macet. Tapi penumpang sepi

Gue : Mungkin maunya jalanan lancar tapi rame penumpang ya pak?

Supir : Hahaha, ya maunya sih begitu... Sebenarnya jalanan di Jakarta itu gak bakal macet kayak sekarang kalau gak gara - gara sepeda motor

Gue (dalam hati): baru aja gue posting soal sepeda motor di blog gua. Pas banget...

Gue : Jadi gara - gara sepeda motor ya pak? Ya soalnya ratusan ribu motor terus - terusan dilepas pak ke masyarakat... Mana kalau mau beli gampang banget proses kreditnya

Supir : Pantesan... Pemerintah kok gak mikir ya kita yang dijalanan jadi susah

Gue : Khan yang pejabat gak pernah kena macet pak...

Supir : Iya juga... Dulu saya kerja jadi supir pribadi di Arab Saudi gak pernah ngalamin macet tuh... Padahal disana banyak mobil pribadi... Tapi...gak ada yang namanya motor...

Gue : Bus gak ada juga pak?

Supir : Oh, bus ada... Kebanyakan yang menggunakan ya tenaga kerja asing

Gue : Pernah ada masalah sama pengguna sepeda motor disini pak?

Supir : Aduh, syukur - syukur enggak dan jangan sampai... Melihat mereka nyalib sana sini... Kesenggol lalu jatuh... Terus ngamuk - ngamuk

Gue : Dan pengendara sepeda motor lain langsung ikut mengeroyok...

Supir : Iya betul... Pokoknya orang yang menderita sakit jantung mendingan jangan bawa mobil di Jakarta deh...

Gue : Jadi hidup di Jakarta serba salah ya pak?

Supir : Yah, begitulah...

*Hahahah... jadi yang enak tinggal dimana?*

Rabu, 17 November 2010

Knalpot kompor...

*Sebelum mulai mengoceh panjang lebar lagi, gue ingin mengucapkan selamat Hari Raya Idul Adha bagi yang merayakannya…*

Knalpot kompor? Waktu temen gue minta nulis tentang ini gue rada bengong… Maklum deh… baru terjun bebas ke dunia perbus-an itu tepatnya pas kuliah… Tapi bener – bener jadi nyinyir memperhatikan semuanya pas udah belasan tahun kemudian… 

Ternyata itu curhatan temen gue dan teman – temannya yang bête ngeliat bus jurusan Jakarta – Merak yang mengeluarkan asap knalpot yang hitam, tam, tam kayak kompor hingga dijulukin kompor berjalan. Yah, kompor dulu kan belum pake gas loh. Masih pake sumbu yang dinyala’in dengan korek api. Dan memang rata – rata kompor – kompor ini jadi kelihatan item berat kalau udah kelama’an dipake… Mungkin lebih tepatnya knalpot api unggun kali yee… Hihihih… Protes aja.

Yak, sebenarnya sejak dulu kita suka heran kenapa bus – bus yang mengeluarkan asap gak kira – kira ini masih aja dibiarin beredar.  Temen gue itu sampai bilang betapa sesak napasnya kalau sedang naik motor dan PASS berada dibelakangnya bus  atau kendaraan umum lainnya. Gak cuman bikin sesak napas tapi juga bisa bikin muka jadi item pula. Pantesan dulu sepupu gue ogah lama – lama berada di Jakarta. Dia bilang bisa mati sesak kalau dia terus – terusan naik motor di Jakarta. Biarpun sudah pakai perkakas lengkap seperti jaket, helm, dan entah apa lagi. Begitu kita pas lagi apes berada di dalam kepulan asap itu… Bleh… sudahlah…. Masih mending kalau kita sedang berdiri di jalan kita masih bisa menutup mulut dan juga hidung (walau gak guna juga toh asap itu sudah banyak juga yang terhirup). Tapi kalau sedang berada di atas sepeda motor…walah, gimana caranya menutup mulut? Ada juga pasrah ya membiarkan asapnya masuk melalui celah – celah helm… Huek….

Foto ini gue ambil dari website yang saat itu tengah bercerita mengenai hari Bumi dan apa yang terlihat pada penduduk Jakarta pada hari itu. Polusi dari kendaraan umum itu ya ampuuun… Benar – benar sudah parah banget polusinyaaa…


Gue sendiri juga mengalami kalau sedang bengong di pinggir jalan menunggu bus biasa yang lewat. Bus yang ditunggu gak lewat – lewat, tapi asap yang kehirup dari kendaraan umum lainnya udah jadi makanan sehari – hari. Masih untung gue gak nyandu sama asap kendaraan bermotor. Hihihihi… Biasanya semakin terlihat bobrok kendaraan itu makin item dan banyak pula asap yang keluar dari knalpotnya. Dan gak heran kita semua jadi was – was begitu melihat kendaraan yang rada busuk melewati para calon penumpang di jalan. Ibarat kita ini bagaikan nyamuk dan mereka itu adalah alat pembunuh nyamuk (maap, gak bisa nyebut merek…nanti dikira saya disponsorin… Heheheh). Begitu mereka lewat kita jadi rada bubar dari tempat nongkrong. 

Tapi orang Jakarta itu kuat – kuat kayaknya… Ada banyak tempat makan yang berlokasi di trotoar jalan. Dan pastinya dekat dengan jalan dimana angkutan umum itu dengan kejam mengeluarkan asap beracunnya ke makanan dan juga para pengunjung. Gak ada yang terlihat terganggu tuh… Mereka tetap asyik menyantap makanannya… Mungkin rasanya lebih enak kali ya dengan campuran asap dari knalpot kompor… Hahahaha… 

#Terima Kasih ke Mira Aqila buat idenya#

Senin, 15 November 2010

Gue benci sama motorrrr

Ini sebenarnya bukan mengenai kendaraan umum, tapi jeritan hati gue yang paling dalam… Hahahaha, masih Senin udah menjerit – jerit aje…

Yang paling gue takuti dan keki dan benci saat ini adalah para pengendara sepeda motor yang ugal – ugalan…

Ampyuuun deh… Mereka memang rajanya jalanan saat ini dan kelakuannya kebanyakan bener – bener mengundang… Mengundang marah, cacian dan sumpah serapah… Memang gak semua, tapi para pengendara motor inilah yang membuat gue jiper untuk belajar mengemudi dan akhirnya lebih memilih berpayah – payah naik bus… Dan kalau pas lagi ada duit lebih baru deh gaya dikit… Naik taksi … Itu juga milih yang tariff bawah… hehehehe

Anyway, kembali ke soal pengendara motor… Gue punya koleksi lengkap kejengkelan terhadap mereka semua… Mulai dari pengalaman sendiri ataupun cerita dari temen – temen dan keluarga.

Dulu waktu Bokap gue masih nyetir sendiri, kita pernah juga kena peras sama pengendara sepeda motor yang entah nongol dari mana dan gue curiga kayaknya dia menjatuhkan diri di depan mobil. Waktu itu lagi lampu merah dan baru aja Bokap mau jalanin mobil eh ini motor nyelonong entah dari mana dan tau – tau sudah jatuh. Seperti yang sudah bisa diduga si pengemudi motor langsung berteriak – teriak menyuruh bokap gue turun dari mobil. Kita dilerai sama petugas keamanan dari pesta penduduk lokal di dekat jalanan tersebut. Si pengemudi yang masih “Sok” berteriak – teriak itu langsung dibentak sama satpam yang nanya dia mau berapa supaya masalah ini cepat kelar… Akhirnya melayanglah 50rb daripada kita capek beribut sama orang yang mau cari untung.

Cerita temen gue lain lagi. Dia sudah kasih tanda bahwa dia hendak kekiri tiba – tiba nyelononglah si pengemudi motor ini. Gubraks… Jatuh deh dia kena sama mobil temen gue. Bagusnya temen gue cepet baca situasi. Dia bilang kalau dia diem aja disitu bisa – bisa puluhan pengendara sepeda motor lain yang entah darimana nongolnya bisa ikutan mengeroyok dia. Jadi dia langsung membuka kaca jendela dan menyuruh si pengendara motor itu untuk mengikuti dia ke arah yang berlawanan dengan pengendara motor lain yang sedang berada di dekat lampu merah. Di jalanan yang sepi itulah teman gue sukses menyudutkan si pengendara motor yang pastinya sudah melihat tanda bahwa teman gue akan berbelok ke kiri. Tapi dia masih berusaha menyalib. Dan tanpa mengeluarkan uang sepeserpun (terkecuali biaya untuk membetulkan pintu mobilnya sendiri yang terkena motor tadi) teman gue pun meninggalkan si pengemudi motor tersebut.

Dengan naik bus bukan berarti gak ada masalah sama pengendara motor ini. Sudah tahu bus yang badannya gede itu jalannya kan kenceng… Eh, mereka masih berani juga menyalib mendadak dari arah kekanan ke kiri dan badan motor sama bus itu mungkin hanya beda beberapa cm. Gilanya si pengemudi motor dan temannya tertawa terbahak – bahak karena senang sukses menyalib bus. Sementara pengemudi, kenek dan penumpang semua mengeluarkan sumpah serapah yang intinya semoga lain kali elo kena batunya. Jangan sama gue… Tapi sama yang lain deh! Biar KAPOK!

Penutupnya dari sepupu gue yang nyaris mengalami serangan jantung di tempat gara – gara pengemudi motor. Seperti biasa, ada pengemudi motor yang hendak menyalib kendaraan yang tengah dikemudikan suaminya. Rupanya saking serunya mau nyalib, si pengemudi ini kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat di depan kendaraan mereka yang masih berjalan. Akibatnya motornya sempat masuk ke bawah mobil selagi sang suami berusaha mengerem. Kedua – duanya terdiam karena kaget dan sudah membayangkan yang terburuk hingga mereka melihat si pengemudi dan yang dibonceng berdiri dengan terhuyung – huyung. Sambil dibantu masyarakat setempat, pengemudi ini sekalian diomelin karena payah banget bawa motornya. Untung mobil yang sedang berjalan itu masih bisa berhenti tepat waktu. Semua menyaksikan bahwa mereka jatuh sendiri dan bukan karena ditabrak. Maka melenggang pula sepupu gue yang pucat pasi beserta suaminya meninggalkan pengemudi motor yang lumayan lecet – lecet.

Jadi, buat para pengendara motor kalau enggak bisa atau belum bisa banget mengendarai motor…mending elo jalan kaki atau genjot becak aja sekalian… Jangan membuat susah orang lain dengan jatuh pas di depan mobil yang lagi jalan… Atau sok jagoan dengan ngebut dan menyalib kendaraan lain…

Jadi mikir juga…berapa banyak sih sepeda motor baru tiap hari yang dilepas ke masyarakat? Kok makin lama jadi tambah banyak dan benar – benar jadi pengganggu! Plus ngeri juga dah kalau naik ojek yang pengemudinya ugal - ugalan!

Jumat, 12 November 2010

Minta tolong


Kata Nyokap gue orang pelit itu mesti diminta baru dia memberi (walau pasti tetap gak rela). Tapi harus ada ucapan dari kita secara kita yang butuh. Gak perlu gengsi - gengsian kalau memang kita yang perlu banget.

Dan begitulah juga kalau di bus atau angkutan umum lainnya. Kita gak bisa berharap orang lain bakal ngerti walau ada beberapa keadaan yang mestinya orang lain udah harus ngerti sih. Tapi ini kan tempat umum dengan berbagai macam prilaku manusia didalamnya.

Jadi...

1. Sedang hamil
Ya, ya, ya...gue tau sebenarnya wanita dalam keadaan seperti ini harusnya gak usah minta tolong lagi sama penumpang lain. Penumpang itu mestinya berbelas kasih. Tapi bisa aja si penumpang itu merasa capek atau emang gak mau tau.
Jadi, buat gue sih...jangan segan meminta tolong sama orang lain. Pikirin juga lah keadaan kita dan anak yang ada didalamnya itu. Gimana kalau bus-nya nge-rem mendadak dan jadi jatuh? Mau nyalahin supir? Mau nyalahin penumpang yang gak ngasih tempat duduk?

2. Sedang sakit
Pfff, gue sudah pernah nih memohon tempat duduk sama cowok yang duduk dekat tempat gue berdiri. Soalnya gue udah campur aduk akibat pms. Kliyengan iya, mual iya, sakit perut iya... Dan syukur deh dikasih

3. Kepanasan
Gue juga gak ngerti kenapa orang Indonesia itu tahan - tahan amat yak bernapas di tempat yang udah gak ada sirkulasi udaranya. Gue perhati'in jarang banget ada yang minta tolong sama penumpang yang lagi duduk untuk dibukakan jendela. Padahal suasana di dalam bus udah gak tau lagi panasnya kayak apa...
Nah, gue pernah nih akhirnya gak tahan dan minta seorang cewek supaya membuka jendelanya. Dengan cemberut dia buka juga akhirnya... Tapi sedikit banget! Tau - tau ada cowok di sebelah gue yang rupanya udah kepanasan juga langsung bergerak mendorong jendela itu supaya terbuka lebih lebar... Huahahhhahaha... Mesti ada yang minta duluan toh...


4. Sedang sakit bagian ke dua
Kalau lagi sehat maunya kena angin melulu lah. Apalagi pas kepanasan. Tapi kalau lagi gak enak badan...wohooo... Jangan harap deh... Maunya juga jendela kita tutup serapat mungkin... Kadang - kadang gue pikir mungkinkah ini yang menyebabkan orang - orang yang duduk dekat jendela selalu menutup rapat jendelanya dan gak peduli sama orang lain?
Jika pas kita yang sakit ya apa boleh buat deh... Paling minta tolong supaya jangan membuka jendela terlalu lebar...

Permintaan tolong yang kemungkinan besar bakal ditolak mentah - mentah

Permisi satu kursi buat narok barang - barang.
Kalau gue, bakal gue tolak dengan judes karena gila aja... Barang bawaan banyak mah urusan elu duong...jangan jadi nyusahin orang lain...

Jadi...jika butuh jangan segan untuk meminta pertolongan kecuali yang terakhir tadi. Orang Jakarta mungkin terlihat kejam tapi karena mereka sendiri udah capek. Umumnya gak bakal tega deh menolak permintaan tolong yang udah diucapkan dari orang lain... Pssst, tapi kita - kita suka tahu loh kalau dikibulin... Abis orang yang belagak sakit dan minta tolong diberikan tempat duduk abis itu langsung keliatan segar bugar :D

Percaya aja...

Rabu, 10 November 2010

Jangan macem - macem sama supir

Ini komentar temen gue setelah membaca cerita gue soal supir yang lagi ngetem.

Dan itu betul sekali teman - teman... Jangan pernah bikin ribut sama supir ditengah - tengah dia melaksanakan kewajibannya membawa penumpang sampai ditujuan. Sampai berani macem - macem maka siap - siap aja diamuk sama mereka seperti ini :


1. Supir mikrolet yang Ngetem
Jangan pernah ngomel atau mendesak si supir supaya buru - buru jalan. Kalau enggak suka mendingan turun dan tutup kuping aja kalau diteriakin macem - macem. Dia butuh penumpang tapi kita kan ngejar waktu. Walau tentu aja tetap nyari murah juga.
Kalau mereka gondok sih ada yang langsung menyalak. Mendingan yang begini nih jadi kita langsung kabur aja dari kendaraannya. Kalau dia gak nyaut, siap - siap aja jantungan karena dia bakal ngebut abis.

2. Supir bajaj
Supir bajaj bakal ngamuk kalau ditawar terlalu murah. Bagus kalau dia melengos tanda bahwa dia ogah dengan tarif yang kita tawarin. Tapi yang berabe kalau dia nerima dan begitu kita masuk langsung dia ngebut kayak diuber setan...
Makanya gue suka heran kalau denger temen gue nawar bajaj murah banget. Gak takut ya bakal dibawa ngebut sama supir bajaj yang bete tapi butuh duit?


3. Ongkosnya kurang
Kalau di bus kita banyakan berurusan sama kenek untuk masalah ongkos. Jadi ya ributnya sama mereka.
Tapi kalau sama supir mikrolet, wah jangan coba - coba untuk membayar kurang dari tarif. Mereka gak segan - segan berhenti, keluar dari mikrolet, nguber kita dan meminta kekurangan ongkos tersebut.
Kok tau? Ya iyalah... Wong gue pernah mengalami sendiri jalan sama temen gue yang kurang bayarnya... Eh, tau - tau di udah di belakang kita dan nagih...
Masih untung gak dipukul di tempat...

4. kecenderungan yang bertolak belakang
Coba deh minta supir supaya jalan cepet, pasti yang ada dia ngetem lamaaaaaaaaa banget. Giliran minta supaya jangan ngebut, malah seperti dorongan kuat buat dia supaya tambah nginjek gas.


Jadi intinya, biarinin aja mereka nyetir, biarin terserah dia mau ngapa'in yang penting kita sampai ditempat tujuan dengan selamat.

Senin, 08 November 2010

Omprengan

Buat yang diluar Jakarta gue gak tau ya ada apa gak kendaraan ini.

Omprengan itu asalnya dari kendaraan pribadi yang didayafungsikan oleh si pemilik buat mengangkut orang lain yang tujuannya sama dengan dirinya.


Jadi misalnya si empunya mobil punya rumah di Bekasi tapi harus bekerja di Jakarta. Daripada dia harus nanggung biaya bensin sama tol, kan mendingan dia sharing aja sama penumpang lain yang punya tujuan sama. Penumpang ini jelas lebih seneng naik omprengan karena walau mungkin bayarnya agak mahal tapi dia bisa terhindar dari kelelahan karena harus berdiri didalam angkutan umum. Atau bisa jadi biaya lebih murah karena jika dengan angkutan umum ia harus berganti hingga tiga kali sebelum sampai ke tujuan. Ini omprengan dalam skala kecil dimana empunya mobil memang hanya mengangkut orang dalam kapasitas terbatas dan tetap mengutamakan kenyamanan.

Tapi ada juga omprengan yang udah kayak angkutan umum. Jadi mereka punya tempat mangkal sendiri dan baru bergerak setelah mobilnya penuh sesak sama penumpang sampai gak ada nikmatnya lagi sama sekali. Tapi tetap aja penumpang lebih memilih naik omprengan karena angkutan umum bakal lebih berabe lagi

Walau gue bekerja didalam kota Jakarta juga, gue pernah beberapa tahun yang lalu merasakan enaknya naik omprengan. Yah, sebenarnya kendaraannya sih gak enak - enak amat. Kendaraannya itu minibus yang udah tua banget. Tapi didalamnya lebar jadi bisa memuat banyak penumpang. Yah, gak banyak - banyak amat lah. Tapi bisa sekitar sampai 15 orang kalau rada maksa.

Senengnya? Jelas karena ongkosnya lebih murah dari bus biasa dan udah dipastikan gue masih bisa duduk dan tidur didalam omprengan. Buset, gue gak mau rugi amat yak untuk waktu tidur... Hehehehe... Gak enaknya? Aduh, ngetemnya lama banget. Memang dia udah gak nyari - nyari penumpang tapi yang ditunggu itu adalah para pelanggannya. Kebanyakan mereka baru masuk kerja jam 8.30 sehingga si pemilik omprengan ini baru mau jalan sekitar jam 07.30! Buset deh. Suntuk juga sih kalau lagi nunggu penumpang lain yang pada bersantai - santai.

Kejadian lucu atau tepatnya mengenaskan bagaimana gue melihat kalau orang sudah keenakan itu kadang bisa minta jantung. Jadi, karena bensin naik maka si pemilik kendaraan meminta pengertian kita para penumpangnya bahwa tarifnya dia juga bakal naik. Ada ibu yang bertanya setengah mengeluh ke gue,"Yah, kok dinaikin ya?" Jadi dia beneran gak rela bayar dengan tarif baru. Gue menatap si Ibu sambil mikir, padahal kalau dia naik bus bakal lebih mahal lagi dan gak bakal bisa duduk bersantai - santai didalam kendaraan.

Hubungan indah gue dengan si pemilik omprengan ini berakhir karena kantor gue pindah gedung dan dengan gaya berangkat jam 07.30 mah gue bakalan telat sampai dikantor.

Bahayanya naik omprengan yang tidak kita kenal adalah bisa aja si pemilik mobil ini sebenarnya rampok. Dan penumpang yang didalamnya ternyata rampok juga. Jadi memang harus teliti sebelum naik omprengan dan kalau perlu bareng sama orang yang udah biasa menggunakannya.

Butuh yang murah memang biasa tapi harus selalu waspada:)

Rabu, 03 November 2010

Sakkkitttt



Gue gak enak badan udah beberapa hari ini...

Lalu tiba - tiba gue teringat hari - hari dimana gue harus ngantor dengan kondisi seperti itu

Paling parah kalau udah lagi PMS... Duh, rasanya males pisan bangun dari tempat tidur... Sepanjang nunggu bus itu gue berdoa semogaaa bus-nya kosong... . Tolong ya Tuhan.... Semoga kosong... yang tentu saja...akhir - akhir ini..GAK sama sekali

Gue cuma bisa berdoa pas masuk bus supaya perut gue gak sakit...dan sekali lagi seperti yang sudah gue sadarin sebelumnya...sakitnya minta ampun tuh perut... GUe nengok kanan kiri dengan putus asa...berusaha nyari ada yang kosong gak ya... Soalnya kayaknya gue mau kolaps nih... Akhirnya gue gak tahan lagi dan memohon (yep, mengemis lebih tepatnya) kepada seorang pria yang duduk deket gue apa boleh gue duduk sebentar soalnya gue gak enak badan. Dia kasian kayaknya ngeliat muka gue yang udah pucet langsung deh dia berdiri dan memberikan gue tempat duduknya... Diberkati deh kebaikan cowok itu... Walau mungkin dalam hati dia nyumpahin gue...


Bertahun - tahun yang lalu pas masih kuliah, gue kepleset di kamar mandi dan kuku di jempol kaki gue robek... Wuah, sakit bener...tapi sial gue harus ke kampus karena ada ujian. Jadi dengan was - was gue pergilah pake bus ke sana... Gue sampai janji sama diri gue sendiri...bahwa SIAPAPUN yang berani nginjek jempol gue yang masih berdarah - darah itu bakal gue bunuh di tempat... Tapi itu masih tahun 1993... Penduduk belum sebanyak sekarang. Plus, gue pergi ke kampus tidak di jam sibuk. Jadi yang harus gue lakukan adalah berjalan dengan terpincang - pincang sambil meringis dan semua orang langsung nyingkir dari gue... Apalagi setelah mereka ngeliat perban di kaki. Sekarang sih mending gue naik taksi aja deh berapapun biayanya...

Kalau orang lain yang sakit di dalam bus atau angkutan umum lainnya pasti langsung ketauan karena mereka biasanya pada pake balsem dan baunya... Ada satu merek tuh yang baunya bisa menyeret gue untuk merasakan sakit yang sama setelah gue menghirup baunya. Gue asli gak suka tapi apa mau dikata? Masih untung mereka pake balsem buat ngusir penyakitnya. Bayangin kalau orang yang sakit itu sampai muntah. Dalam hitungan menit, kamu bakal merasa ikutan sakit padahal itu hanya imajinasi doang...

Ada hal lain yang gue inget ketika memilih naik taksi ketika ke kantor. Pas dalam perjalanan gue liat ada orang yang gue kenal dari naik bareng di omprengan. Jadi gue stop taksinya dan ngajak dia ikutan. Gue inget dia nyampe duluan di kantornya daripada gue. Gue gak niat minta ongkos patungan sama dia cuman mau jadi orang baik aja. Gue liat dia rada ragu tapi gue tetap ngajakin jadi akhirnya dia naik.

Di dalam taksi dia nanya kok gue naik taksi ke kantor. Gue bilanglah lagi gak enak badan. Lalu dia ngeliat gue rada lama dan nanya,"Kenapa elo gak masuk aja kalau emang sakit?"
Gue liatin dia... Berusaha mikir untuk mengatakan sesuatu yang cerdas tapi pendek untuk dikatakan tapi menusuk ke hati. Gak bisa kepikiran... Jadi, gue senyum doang dan tetap diem sampai dia akhirnya sampai di tujuan.


Ampyun deh... Ya gue tentunya lebih suka TINGGAL di RUMAh lah kalau lagi sakit. Tapi namanya juga punya tanggung jawab dan rasa gak enak sama temen kerja. Kalau gue gak masuk alamat dia bakal kerja sendirian duong dengan segala beban sebanyak itu. Dan karena gue gak tahan untuk berdiri dalam bus sepanjang perjalanan ke kantor ya mending gue naik taksi.

Seperti yang pernah gue bilang, berada dalam kota yang sama, menghadapi macet yang sama, menggunakan bus yang sama...gak membuat orang jadi saling mengerti satu sama lain...

Pendek kata, kalau sakit... YA GAK USAH MASUK KANTOR AJE!