Senin, 28 Mei 2012
Musik oh musik
Siapa sih yang gak demen dengerin lagu walau mungkin bukan penggemar yang fanatik banget seperti harus beli kaset atau CD-nya? Tapi dengerin lagu juga bisa jadi masalah buat kesehatan kuping dan kepala di saat gak nyambung sama selera kita. Dan kejadian ini paling sering terjadi di kendaraan umum.
Label:
music,
my life on the bus,
public transportation
Selasa, 15 Mei 2012
Curhat
Kali ini gue hanya ingin curhat mengenai kebiasaan sebagian besar dari kita sebagai orang Indonesia yang rada aneh. Yaitu: gak sabaran dan gak mau tau alias EGP. Kenapa gue bilang begitu?
HAPE
dalam banyak hal, alat komunikasi yang satu ini memberi banyak manfaat tapi juga jadi pembuka tabiat asli seseorang. Sudah sering diminta untuk mematikan hape kalau sudah di dalam pesawat. Ealah, teutep aja masih cuap-cuap kayak penyiar radio. Pramugari yang negor gak mempan, penumpang sebelah yang negor gak mempan. Diamuk sama beberapa penumpang malah balas menyalak. Itu sifat EGP alias gak peduli sama peraturan yang ada. Apa ada bisnis milyaran yang bakal lenyap kalau hape atau alat komunikasi lain dimatikan? Seberapapun pentingnya bisa gak diselesaikan sebelum naik pesawat?
Label:
egois,
hidupku di buzz,
tidak disiplin,
tidak sabar
Senin, 07 Mei 2012
Jembatan Penyeberangan
Suka sebel gak kalau melihat orang lebih memilih menyeberang di jalur busway daripada lewat jembatan penyeberangan? Sebel kenapa? Loh, kalau orang itu melenggang menyeberang begitu saja apakah tidak membahayakan dirinya sendiri? Bukankah sering terjadi tabrakan dikarenakan penyeberang jalan yang menggunakan jalur busway?
Tapi sebelum kita menghakimi orang-orang ini hanya pemalas yang tidak memikirkan keselamatan diri sendiri dan orang lain, coba kita iseng nyari tahu kenapa sih orang lebih suka nekat lewat jalur busway?
1. Males
Intinya, orang akan selalu mencari cara termudah daripada nyari yang susah. Misalnya gimana caranya saya sampai ke seberang jalan itu? Bisa naik jembatan yang udah ancur atau naik perahu kalau mau cepet. Atau muter jalan yang jadinya jauh tapi lebih aman. Orang akan lebih memilih yang cepet biarpun bahaya menghadang. Males aja karena sebenarnya tinggal sedikit lagi tapi malah harus buang-buang waktu muter jalan.
Bisa juga males aja sih naik jembatan penyebarangan. Mendingan lari-lari deh tapi gak usah naik-naik tangga.
2. Gak kuat
Kita tidak semuanya kuat sehat dan gak ada masalah dengan naik tangga penyeberangan. Yah, boro-boro naik tangga. Lewat jalanan dibawah aja mesti pelan-pelan loh dan SEBENARNYA disitulah kegunaan Zebra Cross yang sering banget DICUEKIN oleh pengguna kendaraan bermotor.
3. Keamanan
Sering terjadi perampokan di atas jembatan penyeberangan. Apalagi kalau hari sudah larut malam wah, semakin tidak aman deh jembatan penyeberangan itu. Dan kalau tidak perlu banget, mendingan dihindari.
4. Terpaksa
Maksudnya? Nah, kalau yang ini agak panjang nih penjelasannya. Angkutan umum banyak yang sering melanggar peraturan diantaranya dengan memasuki jalur busway. akibatnya ketika penumpang ingin turun di tempat tujuannya, mereka tidak mau repot-repot keluar dari jalur busway. Sang penumpang apes itu diturunkan di jalur busway yang artinya ia berada di tengah jalan. Mau naik jembatan penyeberangan pun sudah tidak bisa karena tangga terletak di tepi kanan kiri jalan. Jadilah dia puyeng di tengah sana karena masih harus berjuang untuk menyeberang jalan. Plus, dia harus berhati-hati jangan sampai terlindas busway.
Kalau kamu? Ada alasan tertentu malas menggunakan jembatan penyeberangan?
Selasa, 01 Mei 2012
Bayar dong
Kalau biasanya gue memuat tentang omelan dari diri sendiri, sekarang iseng ah dibalik... Mungkin gue pernah memuat topik ini tapi gak detail alias curhatan dari 1 orang supir... Jadi sekarang, mau bikin nih ceritanya
Mikrolet itu ongkosnya beda sama bus. Kalau bus , mau jauh atau dekat itu ongkosnya sama. Tepatnya, mau berdiri atau dapat tempat duduk ya teorinya ongkosnya ya sama aja. Tapi tentu saja banyak orang gak rela membayar ongkos full apalagi kalau mereka naik bus hanya gara-gara malas jalan kaki alias sebenarnya jaraknya dekat. Ternyata di mikrolet pun orang sering males membayar ongkos full. Di mikrolet, tergantung seberapa jauh jarak yang ditempuh. Semakin pendek jaraknya ya semakin murah juga. Tapi, udah begini pun orang masih berusaha juga bayar dibawah ongkos standard. Dan siapa biasanya yang paling males bayar full? Gak lain gak bukan adalah ibu-ibu. Gak bisa disalahin juga sih karena mereka memang administrator keuangan dirumah. Jadi yang dirasa bisa di hemat ya kudu dihemat.
Tapi gak selalu ibu-ibu juga sih. Suatu hari pas gue naik mikrolet, turunlah seorang bapak dengan dua anaknya dan jreng...dia hanya membayar ongkos untuk 1 orang. Penumpang yang duduk di sebelah si supir iseng bertanya setelah supir kembali menjalankan mobilnya.
"Kok dia hanya bayar buat 1 orang? Padahal tadi anak-anaknya saya lihat dari kaca spion duduk dan gak dipangku...?" Dan dengan kalemnya si supir pun menjawab,"Wah, banyak bu yang seperti itu... Ngeselin sih, tapi saya males marah-marah... Capek..."
Hahahaha, jarang loh gue ketemu supir model begini... Masalahnya bukan apa-apa sih, supir yang jengkel karena penumpangnya membayar kurang dari ongkos yang semestinya pasti jadi bad mood. Biasanya ada yang mengomel,"Dikira masih jaman penjajahan Belanda dengan ongkos segitu?" Mungkin dia kesel karena alamat setorannya berkurang. Dan efeknya bukan bagi si penumpang yang udah melenggang pergi dengan membayar kurang dari semestinya. Tapi bagi penumpang lain yang ada di dalam mikrolet. Alamat jantungan karena supir langsung ngebut gila-gilaan melampiaskan kekesalannya. Atau malah, dia menyuruh penumpang yang masih ada untuk pindah ke mikrolet lain. Apesnya, kalau sampai gara-gara ngebut itu terjadi kecelakaan...
Yang jadi gue perhatikan juga, kalau si supir gak jutek...penumpangnya justru yang ngeselin... Sampai bikin penumpang lain ikutan kesel
Jadi, masa iya kita perlu ketemu sama supir yang judes dulu baru mau bayar full dan memanfaatkan kebaikan hati supir yang kalem untuk bayar gak semestinya?



