Senin, 27 Desember 2010

Rambu lalu lintas...



Kemarin pagi gue pergi ke salah satu mall yang ada di Jakarta dengan taksi. Ceritanya sih mau buru – buru. Deilee… Ke mall aja buru – buru. Anyway, setelah menyebutkan tujuan gue sekalian gue meminta supir supaya lewat suatu jalan tertentu yang jadi lebih deket ke mall itu daripada muter – muter lewat jalan lain. Sambil gue ngomong si supir ngelirik ke jam.

“Udah jam 10 kok pak, jadi kita sudah bisa lewat sana,” gue berusaha menenangkan pak supir.


“Iya sih bu, tapi ini baru jam 10 lewat dikit… ,” jawab pak supir. “Saya kuatir aja nanti jam saya sama jam ibu dan sama jam polisi yang lagi patrol beda – beda…”

Gue jadi mikir, bener juga sih. Kalau jamnya pak polisi masih kurang dari jam 10 pagi dan kita melaju begitu saja dengan sukses ya alamat kita bakal jadi sasaran empuk banget. Jadi gimana dong?

“Yah, gini ajah deh pak,” akhirnya gue berusaha memberi usul ke si pak supir. “Kita melaju aja deh sambil liat – liat suasana. Kalau ada mobil lain yang melaju ya kita ikutan… Kalau gak ada ya ambil jalan lain deh…”
Pak supirnya setuju. Toh, kita masih harus berhenti beberapa kali karena lampu merah. Pastinya udah lewat jam 10 dong sesampainya kita disana.


Dan dengan deg – degan gue dan pak supir pun menengok kanan kiri mencari sekongkolan untuk melewati jalan tersebut. Dan ternyata mobil sebelah dan taksi yang gue naikin ini lolos dengan nilai sempurna melewati jalan tersebut. Hhhhh…

Kadang nih orang suka merasa halah gue kan penumpang. Jadi gue rajanya nih, supir harus tau dong jalan yang lebih singkat dan gak pernah kena macet (masih ada apa?) dan juga apal rambu – rambunya. Yah, boleh – boleh aja sih merasa begitu namanya juga kita yang keluar uang. Tapi gak ada salahnya juga kan kalau kita juga memperhatikan rambu – rambu lalu lintas juga? Misalnya pada jam tertentu jalanan ini tidak boleh dilewati. Baru boleh dilewati antara jam segini sampai jam segitu. Mana kita tahu kalau suatu hari kita membawa mobil sendiri? Tentunya lebih enak kalau kita juga tau jalan dan peraturan kan?

Yah, ini sih hanya usulan ajah kok…

BTW, kali ini gue beneran cabut seminggu yaaaa.... (emang ada yg nanya? Hehehehe) ...

Mengucapkan selamat HARI NATAL untuk yang merayakan dan bagi yang gak...selamat menikmati hari libur... (walau hari Sabtu...hiks)

Sabtu, 25 Desember 2010

Jumat, 24 Desember 2010

Koridor busway

Tadi ngebaca di Jakarta Globe tentang koridor busway terpanjang yang akan menghubungkan setidaknya 9 mall, 6 universitas dan 8 rumah sakit. Untuk jelasnya bisa langsung baca ke website berita tersebut... Denger - denger sih tanggal 31 Desember 2010...

Hahahaha, pas banget beberapa minggu yang lalu gue iseng foto - foto koridor busway yang puanjang banget berlokasi di dekat Plaza Semanggi...dan sambil mikir, mau jadi apa nih koridor?

Wah, seru juga kalau ada koridor yang langsung nembus mall :D




















Rabu, 22 Desember 2010

Selamat HARI IBU

Foto - foto ini diambil pas gue lagi naik busway...

Kata - kata di dalam foto ini menasehati orang agar bermatabat dengan memberikan tempat duduk kepada yang lebih membutuhkan... MASAK SEEH?



Foto yang lain memperlihatkan nomor identitas busway dengan nomor telepon jika membutuhkan : 021 7228727
Ada juga permintaan untuk tidak merokok, utamakan penyandang cacat, orang lanjut usia dan wanita hamil. Serta dilarang makan minum dalam bus dan kecepatan maksimal 50 km/jam (lah, siapa yg ngawasin?)



Eh iya, hari ini kan HARI IBU... Jadi, bagaimana kalau kita merayakan hari tersebut dengan memberikan tempat duduk pada orang yang lebih tua dan para wanita hamil?

Senin, 20 Desember 2010

Pengamen

Lagi iseng aja post gambar - gambar pengamen di bus

Pengamen buta dengan loudspeaker-nya

Dengan gitar ku menyanyiiiii

Menyanyi soloooo


Ngamen sekalian bawa anak

Jumat, 17 Desember 2010

Foto - foto iseng

Tadi malam Indonesia menang lawan Filipina 1 : 0!! Yayyyyy! Hahahaha, out of topic banget sih gue...  Yah, berhubung gue sejak kemarin sore sudah mengamankan diri dirumah jadi gue gak tau lah situasi di jalan seperti apa setelah pertandingan usai. Yang pasti sih macet... Tapi paling gak kerusuhan terhindari...

Jadi hari ini hanya memuat foto - foto yang iseng gue ambil pas lagi naik busway...

Di Jakarta nih ada 3 macam warna busway... yang gue tau loh... Heheheheh



Ingat gak artikel sebelumnya mengenai tips dari DETIK yang menganjurkan jangan bergerombol? Foto dibawah ini menunjukkan bagaimana orang suka ngumpul di pintu. Pintu yang terletak di kanan dan kiri badan bus itu terlihat dikerumunin orang kan? Ini kebetulan ajah lagi sepi


Nah, kalau yang ini menunjukkan situasi orang yang mau turun dari busway menuju halte busway... Kalau kebetulan pintu busway ada dua, penumpang bisa turun di pintu belakang dan yang naik bisa melalui pintu depan. Tapi kalau hanya satu, biasanya digilir sama SatGas Busway supaya jangan sampai orang yang mau keluar jadi terhambat gara - gara yang mau masuk langsung nyeruduk aja ke dalam

Rabu, 15 Desember 2010

Tips dari detik.com

Gambar ini gue foto di salah satu halte busway yang judulnya 5 Tips Nyaman naik Trans Jakarta dari Detik  :


1. Antri dengan tertib . Ikuti arahan petugas...
Huhuhuh, yakin tuh orang - orang bisa mengantri dengan tertib sambil mengikuti arahan para petugas kalau lagi rame? Dueh... gak janji deh...
Kalau sedang panik karena terlambat atau memang dasarnya senang terbirit - birit..., kenyamanan jadi masalah kesekian. Yang penting cepat sampai dan kalau perlu seruduk aja apapun yang menghalangi

2. hati - hati saat melangkah naik atau saat turun bus.
Yang ini mau tidak mau dalam keadaan buru - buru seperti apapun harus diikuti karena memang berbahaya kalau main melangkah begitu saja. Jarak dari lantai bus ke lantai halte itu bisa sekitar 20 cm kali.



3. Jangan berdiri bergerombol, isilah bagian bus yang kosong.
Masalahnya, kalau jarak tempuhnya dekat penumpang jelas ogah untuk berada di posisi yang jauh dari pintu. Semua mikirnya sama dan berkehendak sama. Maunya gak repot pas mau turun. Lah, ngapain juga repot - repot ke belakang kalau sebentar lagi sudah mau turun?

4. Biasakan mengingat waktu, jurusan & nomor bus yang anda tumpangi
Mengingat jurusan sih oke deh... Lah iyalah, masa mau ke Ancol naik busway yang ke Ragunan?
Tapi mengingat waktu..., ehm... memangnya pernah ya busway dan bus - bus yang beroperasi di Jakarta itu bisa tepat, pat, pat waktu? Beda - beda tipis 5 menit aja itu udah bonus!
Nah, nomor bus yang ditumpangi... Ini maksudnya buat naik bus biasa atau busway? Apa busway ada nomor seperti bus - bus biasa? Setau gue sih memang ada nomor identitas bus tapi kayaknya itu bukan patokan yang perlu buat dihapal deh...

5. Jika mengalami gangguan keamanan laporkan segera kepada petugas.
Hal ini pernah gue saksikan sendiri ketika orang yang kecopetan langsung melapor sama petugasnya. Dan lo tau apa yang terjadi? Buswaynya melaju langsung ke tujuan terakhir tanpa berhenti - henti lagi. Penumpang yang gak mencopet dan perlunya turun di halte sebelum halte terakhir jelas jadi gondok. Mana pas keluar pake diperiksa segala tasnya... Tentunya hal ini percuma saja kalau si pencopet udah keburu turun dan si penumpang terlambat menyadari.
Tapi setidaknya ada tindakan langsung dari para petugas.

Senin, 13 Desember 2010

Komentar gak mutu


Temen gue kemarin bercerita soal pengalaman konyolnya dengan seorang supir taksi. Jadi ceritanya kendaraan yang ia tumpangi itu berhenti mepet dengan rel kereta. DIperkirakan jika ada kereta lewat dengan kecepatan tinggi maka bisa dipastikan taksi itu akan ikut tersambar dengan sukses. Jadi karena melihat kereta masih belum terlihat walau sudah ada tanda peringatan temen gue mengusulkan untuk melaju saja terus. Daripada berhenti tapi posisinya membahayakan seperti itu kan lumayan bikin deg – degan juga. Dan jawaban sang supir taksi itu adalah,”Oh, jadi kita harus terus aja ya? Yah, saya khan tidak ingin membahayakan penumpang…”
Duh paaak, bagus sih memang tidak ingin membahayakan penumpang tapi kalau berhentinya di dekat rel itu sama saja memberikan bahaya langsung pada diri sendiri dan pastinya juga pada penumpangnya…

Gue bilang, itu masih mending… Gue pernah mengalami yang lebih brengsek lagi dari supir mikrolet. Kebetulan gue duduk di depan. Si supir ini awalnya ngajak ngobrol basa basi gitu jadi karena gak enak kalau gak diladenin ya gue jawab deh seadanya. Eh, lama – lama obrolannya itu jadi kurang ajar dan gue udah mulai kesel. Tapi dasar merki, bukannya turun gue malah tetap aja bertahan di mikrolet itu. Sampai pada akhirnya kita harus melewati rel kereta dan dia dengan cueknya melaju terus. Gue bilangin dong apa gak mendingan dia sabar aja nunggu kereta itu lewat… Eh, lo tau gak dia bilang apa?
“Kenapa? Kau takut mati ya? Banyak dosamu? Saya sih gak punya dosa… Makanya gak takut lah aku mati…”


Jiaaah, elo kalau mau mati gih sono mati sendiri… Jangan ajak – ajak orang…! Reseh banget tuh supir!

Jumat, 10 Desember 2010

Pegangaaaan

Salah satu hal paling dasar yang mesti dilakukan kalau lagi di bus... Pegangan sama apaaa aja yang ada di dekat elo... Kalau enggak, siap - siap aja terpelanting pas supir ngerem atau jatuh ketika supir nge-gass ...








Rabu, 08 Desember 2010

Gak jodoh...

Busway dan hari libur? Sama sekali tidak berjodoh…


Mendengar promosi dulu bahwa hanya dengan sekali membayar maka kita bisa berjalan – jalan mengelilingi Jakarta. Gak salah sih promosi itu. Kalau di Jakarta hanya ada kamu sendirian yang mau naik busway keliling kota.


Dua tahun yang lalu gue kedatangan sepupu dari luar kota. Karena orang tua gue baru aja keluar dari rumah sakit jadi kita jarang bawa jalan kemana – mana. Jadi dalam rangka pengen nyeneng – nyenengin dia, gue kepikiran mau bawa jalan – jalan dengan busway. Kebetulan ada dua orang keponakan yang juga lagi ada dirumah pas liburan Lebaran. Gue pikir kan pas banget tuh. Lagi liburan dan pastinya gak bakal rame dong sama para pegawai kantoran. Bisa aman sejahtera deh ngebawa mereka semua. Begitu pikiran gue…

Jadi pas hari pertama liburan Lebaran itu gue pun mengajak sepupu dan ponakan gue menuju halte busway terdekat. Mereka jelas senang dong secara belum pernah naik busway… Pas naik dari halte terdekat itu gue rada kaget… Loh…kok orangnya banyak banget ya… Sampai kita gak hanya harus berdiri tapi harus nyelip sana sini supaya dapat tempat berdiri yang enak. Gawat, begitu pikir gue. Apa karena kesiangan ya…
Dan bener aja loh… Begitu sampai di halte transit ternyata calon pengguna busway itu lebih banyak lagi… Apalagi yang menuju ke tempat – tempat wisata yang pastinya bakal dikunjungin sama anak – anak yang lagi menikmati liburan. Yah, gaswat deh. Alamat gak jadi nih ngajakin mereka ke tempat yang gue tadinya ingin gue tuju. Akhirnya gue merubah tujuan gue ke tempat lain dan mampirlah kita semua ke halte transit berikutnya. Yang ternyata sodara – sodara…lebih parah lagi ngantrinya daripada halte transit yang sebelumnya. Wah, bener – bener buyar deh rencana gue ngajakin mereka semua keliling Jakarta. Satu, gue ngeri juga kalau sampai terpisah dari ponakan gue yang masih kecil – kecil. Kedua, apanya yang enak kalau harus ngantri lama, berpanas - panasan dan mesti beresiko keinjek – injek sama orang lain kalau lagi berebutan naik? Mungkin kalau hanya berdua sepupu gue masih gak apa. Paling enggak biar dia tau deh suasana kalau sedang berebutan naik busway.
Selidik punya selidik, memang sih kalau lagi hari libur kebanyakan orang Jakarta telah melarikan diri ke kota – kota lain atau bahkan Negara lain. Tapiii, bukan berarti Jakarta otomatis jadi sepi. Karena penduduk yang tinggal di daerah luar tapi tidak jauh dari Jakarta pun berdatangan. Dan punya niat yang sama seperti gue. Untuk keliling Jakarta dengan biaya yang murah. Walau untuk itu mereka harus rela untuk ngantri dalam waktu yang tidak singkat, banjir keringat, resiko kecopetan dan keinjek – injek saat berdesakan naik ke busway. Keinginan gue jelas tidak setinggi mereka…

Hehehe… Jadi buat teman – teman yang ingin mencoba keliling Jakarta ketika sedang liburan nasional…yah, siap – siap mental dan fisik aja… Karena Jakarta tidak sesunyi dan sesepi yang kita bayangkan… Bus biasa sih memang sepi penumpang tapi sayangnya tidak dengan busway…

Cape dheee

Minggu, 05 Desember 2010

Permisssiiii

Teman - teman,

Bulan Desember ini permisi nulis seminggu sekali aja ya ... Nanti January 2011 balik lagi deh tiga kali dalam seminggu...

Tapi tetap mampir dan baca - baca ya disini :)

Jumat, 03 Desember 2010

Mau nyetir apa chatting?

Temen gue ngirim berita bahwa mulai kemarin polisi mulai menilang dan mendenda sebesar Rp 750,000 bagi para pengemudi yang sibuk beraktivitas sama handphone sementara mereka seharusnya berkonsentrasi dalam mengemudikan kendaraannya.

gambar diambil dari : http://news.okezone.com/read/2010/12/02/338/399216/sanksi-tilang-pengemudi-pakai-hp-digenjot

Yah memang paling kesel deh ngeliat bagaimana orang sibuuk banget sama handphonenya dimana saja tanpa sadar situasi sekitarnya... Sekarang coba pikir, bagaimana bisa berkonsentrasi mengemudi kalau salah satu tangan sibuk dengan handphone? Kalau menurut gue memakai handsfree juga sama ajah sebenarnya... Si pengemudi jadi lebih berkonsentrasi sama percakapan yang tengah ia jalani ketimbang memperhatikan jalan.

Sering banget gue ketemu pengemudi kendaraan umum yang asik banget ngobrol, merayu, marah - marah entah sama siapa dengan handphonenya. Sementara kita penumpangnya sudah deg - deg plas karena khawatir kendaraannya bakal nyungsep entah kemana. yah, gue mengertilah jika ada emergency atau hanya sesekali bicara lewat handphone. Tapi kalau sudah bermenit - menit berlalu, lah ini mau nyari duit apa mau ngobrol sih?

Ohya, sekedar informasi link ini mengenai peraturan lalulintas yang melarang orang melakukan kegiatan yang mengurangi konsentrasi dalam menggunakan kendaraan bermotor...  (Sekedar informasi kalau pegel nyari liat langsung aja di halaman 130 baca pasal 283)

Rabu, 01 Desember 2010

Pembicaraan antara orang - orang biasa


Orangtua gue termasuk orang - orang yang doyan ngobrol... Jadi kalau kita sedang naik taksi gak mungkin deh cuman diem - dieman dari berangkat sampai di tujuan. Terkecuali orang tua gue lagi sakit jadi males ngobrol. Dan si supir juga kelihatan jutek jadi boro - boro mau diajak ngobrol. Di liat juga udah males... Cuman berharap duh semoga cepet sampai tempat tujuan.

Kalau bokap gue yang ngobrol maka topiknya gak jauh - jauh soal politik dan situasi NYATA yang ada di masyarakat yang kita yakin banget sebagian besar anggota KEHORMATAN itu gak ada yang ngeh... Mulai segala harga bahan makanan, bahan bakar... semuanya naik kecuali harga diri... Hahaha, jadi curhat... Kalau nyokap biasanya lebih suka nanya ke hal - hal umum... Misalnya si supir asal dari mana... Terus udah berapa lama jadi supir taksi...

Supir : Ati2 ya bu, pelan2 aja masuknya (sama Nyokap gue yang pake tongkat)

Nyokap : Makasih pak. Kita ke .... ya pak...

Supir : Mau jalan dari mana bu? Kalau dari sini bagaimana? Lebih cepet... gak kena macet...

Gue : Boleh deh pak... (gue ngomong boleh karena emang udah tau jalan pintas tersebut... Ati2 loh, supir taksi bukan dewa yang bisa tau kapan jalanan itu macet atau enggak... Kadang iblisnya suka keluar dibilang gak macet tapi kenyataannya macet... Jadi memang harus tau jalan juga)

Nyokap : Asal dari mana pak?

Supir : Dari Purwakarta bu...

Nyokap : Udah lama nyupir di perusahaan ini?

Supir : Oh, kebetulan udah bu... Saya gak pernah pindah - pindah lagi.

Nyokap : Wah, betah nih kayaknya si bapak

Supir : Yah, di perusahaan ini lumayan bu...

Nyokap : lumayan gimana?

Supir : Kita setorannya sekitar 200rb-an. Kalau ada sisa dipotong dulu sama uang bensin baru deh kita bawa pulang tuh sisa pendapatan. Makanya jadi semangat...

Gue : Terus apa lagi pak?

Supir : yah mereka cukup kekeluargaan lah... Kita bisa pinjem duit apalagi kalau ada kebutuhan untuk anak sekolah... dan mobil ini bisa kita cicil jadi milik kita sendiri

Gue : Tapi kalau bapak gak sengaja nabrak atau ditabrak harus ganti sendiri ya?

Supir : iya lah... Khan kita bawa mobil ini keluar dari pool dalam keadaan baik ya pulangnya harus sama

Nyokap : Kok banyak supir suka gak tau jalan sih pak?

Supir : yah bu... Sama aja kayak orang kerja di kantor... kan kalau baru kerja gak langsung bisa... Gituu...

Gue : Pernah ngalamin dapat uang palsu pak?

Supir : Pernah neng... Biayanya 70ribu... Dia memang kelihatan gugup pas ngasih uang seratus ribuan... Tapi saya gak terlalu mikirin jadi saya balikin 30rb... Gak taunya pas sampai di pool uangnya palsu... Jadi saya rugi 130rb

Nyokap : Nanti rejeki datangnya dari tempat lain kok pak...

Supir : Iya bu, amin...


Yah, begitulah kurang lebih percakapan sesama orang biasa tentang situasi yang terjadi sehari - hari dimana kita berusaha melalui hidup dengan usaha sendiri dan halal...