Jumat, 25 Februari 2011

Tau jalan gak?

Suatu hari gue pengen buru – buru jadilah gue naik taksi… Seperti biasa begitu masuk gue kasih tau deh tujuan gue mau kemana… Dan ketika taxi mulai berjalan itulah…tiba – tiba sang supir berkata dengan nada ragu – ragu…,”Hmmm, sebaiknya kita lewat mana ya bu?”

Rabu, 23 Februari 2011

MRT?

  Kalau dipikir - pikir gue mungkin lahir di jaman yang salah ya... hahaha...

Dulu pas masih kuliah sampai awal - awal gue kerja, kayaknya gue selalu kebagian masa - masa ketika pembangunan jalan layang atau jalan tol... Jalanan di sekitar pembangunan itu? Oh, gak usah ditanya apalagi dibayangkan betapa macetnya jalanan di sekitar area itu. Gue pernah stuck di satu tempat yang sama ketika perjalanan menuju kantor. Selama 1 jam lebih kendaraan yang gue naikin cukman berada disituuuu aja... Gak kemana - mana.

Dan sekarang gue baru baca di koran hari ini katanya mau dibuat MRT...

Ehm, gue rada bingung nih karena kan MRT-nya disini bakal menggunakan kereta. Apa ini artinya bakal menggunakan rel kereta yang sudah ada atau bakal bikin baru lagi? Terus tentunya harus ada stasiun baru juga dong buat MRT ini?

Tapi ngomong - ngomong, walau puyeng mikirin soal bakal macetnya sepanjang pembangunan sarana transportasi baru ini....gue jadi kepikiran... Sebenarnya beneran mau ada MRT atau enggak ya? Mendadak jadi ingat sama pancang - pancang tiang yang katanya buat monorail. Tapi sampai sekarang? Tiang itu hanya berdiri di beberapa jalan dan fungsinya? Tentunya bukan sebagai penghias jalan karena akhirnya kembali hanya buat bikin macet...

Jadi, kalau memang beneran mau ada MRT sih ya...bagus deh... Walau gak tau juga sih kapan persisnya... Tapi harapan gue dan yakin juga harapan orang lain pengguna angkutan umum tentunya rencana ada MRT gak cuman berhenti sampai pembangunan yang setengah - setengah. Lalu akhirnya cuman jadi sekadar pertanda rencana yang gagal atau bikin tambah macet jalan.

Senin, 21 Februari 2011

Berapa lama mesti menunggu?

Berapa lama batas waktu yang kita bersedia jalani ketika sedang menunggu bus biasa atau busway? 15 menit? Setengah jam? Satu jam? Atau dua jam? Atau mungkin selamanya?

Menunggu adalah pekerjaan yang paling menjengkelkan. Apalagi kalau sedang terburu - buru ke suatu tempat tapi gak punya duit ekstra untuk naik taksi. Ditambah lagi dengan cuaca yang gak bersahabat tapi pikir punya pikir, apa gunanya juga naik taksi pas hujan lebat pada jam – jam sibuk? Hanya buang – buang uang karena toh kita bakal terjebak juga di jalan. So, yak…kendaraan umum adalah satu – satunya jalan.

Tapi kalau lagi jam sibuk mereka sepertinya gak lewat – lewat dan bener – bener ujian buat ngetes kesabaran menunggu. Masalahnya mau nunggu sampai kapan? Dan seberapa kuat kita tahan menunggu? Menunggu bus biasa sudah pasti kita harus berdiri lama… Apalagi kalau sudah turun hujan! Lalu apa harus naik kendaraan lain walau harus berganti – ganti? Menunggu di halte busway pun belum tentu kita bisa duduk santai….

Biasanya kendaraan umum akan makin susah dicari ketika beberapa jam sebelum pulang ada kejadian seperti gempa. Biasanya sehabis gempa orang akan segera terdorong untuk pulang lebih cepat daripada jam bubar yang biasanya. Nah yang apes baru bisa pulang pas jam pulang kerja bakal gak kebagian jatah bus dan akhirnya? Yah mungkin olahraga dengan jalan kaki hingga sampai dirumah.

Lebih parah lagi kalau ada demonstrasi besar – besaran di jalan utama dan bener – bener musibah kalau sampai ada kerusuhan. Boro – boro mau nyari kendaraan pulang deh…

Sebelum naik ke busway kita harus beli tiket dulu dan barulah ketika masuk kedalam kita sadar sesadarnya kalau barisan orang yang mengantri itu luar biasa panjangnya. Kalau antrian sampai beratus – ratus meter lah berarti dari gak ada satupun busway dong yang lewat? Biasanya gue terpaksa melerakan uang yang udah kepake beli tiket busway dan kabur secepatnya dari halte tersebut. Dan gak sampai 5 menit, gue udah berada di dalam bus biasa menuju pulang. Walau terkadang sih sama aja menunggu bis biasa ataupun busway.

Singkat kata kalau menurut gue, terserah masing – masing orang lah mau menunggu 15 menit atau lebih dari itu. Tapi kalau hendak hendak berubah pikiran sih sebaiknya secepat mungkin supaya gak nyesel belakangan. Nah itu kalau ngandelin feeling.
Kalau gue mengandalkan mood maka seumur – umur gue gak pernah mood ingin menunggu kendaraan umum lebih dari setengah jam. Karena biasanya kalau sudah lebih dari setengah jam, begitu kendaraan umum itu datang kita tetap gak bisa naik akibat sudah terlalu penuh…

Jadi jangan lupa mikir mau berapa lama kita menunggu? 15 menit? Atau entah sampai kapan karena kita gak punya uang buat berganti – ganti kendaraan…dan hanya bisa pasrah menunggu dan menunggu…

Jumat, 18 Februari 2011

Capek jadi penumpang yee

Gue juga gak ngerti – ngerti amat sih gimana caranya para supir angkutan kota itu mendapatkan penghasilannya.


Sepertinya mereka harus mendapatkan jumlah tertentu dari penumpang dalam 1 hari tersebut. Lalu uang itu disetor sama yang punya kendaraan. Setelah memenuhi jumlah setoran baru deh sisa uang itu diberikan pada supir. Kalau supir itu punya kenek berarti dia harus membagi lagi penghasilannya tersebut. Pantesan aja sering gue perhatikan bus – bus regular sekarang hanya punya 1 orang kenek.


Adalah suatu keadaan yang ironis bahwa kalau lagi jam sibuk, kita – kita para penumpang ini harus nunggu seumur hidup hanya untuk mendapatkan kendaraan umum. Boro – boro mau dapat yang kosong. Jadi, idealnya ya mesti banyak dong kendaraan umum supaya kita – kita ini keangkut semua dan sampai ke tempat tujuan tepat waktu dan syukur – syukur sih nyaman.

Tapi, kalau lagi jam yang gak sibuk – sibuk amat, kendaraan umum yang banyak itu jadi kosong. Jadi ya gak heran deh kalau lagi sepi begini semua kendaraan ini bakalan ketemu disuatu tempat yang salah di waktu yang salah. Kalau sudah seperti itu jelas mereka akan berusaha untuk mendahului yang lainnya. Dan caranya jelas bukan hal yang menyenangkan bagi kita para penumpangnya.

Pertama – tama para supir ini bakalan ngebut abis – abisan supaya mendahului para pesaingnya. Kita para penumpang jelas bakal lebih memilih kendaraan yang lewat duluan ketimbang nunggu – nunggu kendaraan umum berikutnya yang gak jelas kapan lewatnya. Nah, inilah saat – saat dimana elo merasa akan cepat sampai ke tujuan yang bener – bener paling terakhir.

Kedua, kalau sudah keburu di dahului oleh pesaingnya maka mereka memilih cara memperlambat kendaraan… Jalannya pelaaaaan banget bikin darah tinggi naik bagi orang yang kepingin cepat sampai di tempat tujuan.

Ketiga selain memperlambat kendaraan maka dapat dipastikan mereka passti akan ngetem. Dengan ngetem mereka tentunya berharap agar calon penumpang bisa terjaring lebih banyak.

Keempat selain memperlambat dan nongkrong untuk menjaring penumpang, mereka juga memutar balik kendaraannya agar kembali ke tempat yang telah mereka lewati. Yak, bener. Gue pernah ngalamin sendiri. Gue padahal udah seneng banget pas kendaraan ini tidak melewati jalan yang biasa dan mengira mereka mengambil jalan pintas. Ternyata mereka malah balik lagi ke tempat yang sudah dilewati beberapa menit sebelumnya. Capek dhee

Kelima…setelah semua cara di atas sudah ditempuh dan mereka masih merasa gak puas juga maka para penumpang akan dipindah paksa ke kendaraan lain. Jadi, jika di kendaraan sebelumnya kita sudah enak – enakan duduk maka gak janji deh jika dipindah paksa seperti itu akan beruntung mendapatkan tempat duduk lagi.


Sedih deh jadi penumpang…

Rabu, 16 Februari 2011

Kecelakaan

Beberapa waktu yang lalu dimuat berita mengenai supir busway yang menabrak seorang anak kecil.
Tanpa bermaksud menyalahkan siapa - siapa, mungkin hal inilah yang membuat gue juga rada takut belajar bawa mobil. Gue mendingan susah payah naik bus atau kalau ada duit ya pake taksi lah.

Pas pulang dari rumah sakit taksi yang kita naikin ampir nabrak sepeda motor yang nyelonong keluar dari sebuah gang... Untung dia berhasil nge-rem dan lebih untung lagi mobil dibelakang kita berada agak jauh. Kalau enggak bisa - bisa ada tabrakan beruntun.

Setelah lega menghindari motor tersebut kita pun ngobrol - ngobrol dengan sang supir yang bercerita bahwa selain motor yang paling ia takuti adalah orang - orang yang menyeberang.
"Orang - orang itu, mereka main jalan aja tanpa melihat lagi ke kiri dan kekanan. Terkadang tubuh mereka tidak terlihat karena tertutup pot jalan yang besar atau tiang listrik atau tembok. Tau - tau mereka sudah nongol aja dan kalau sudah terlalu dekat kita tidak mungkin menghindar lagi..."

Begitu juga dengan pengendara motor, menurut si pak supir. Sering mendadak mereka keluar dari gang begitu saja tanpa mau berhenti untuk melihat kekanan dan kekiri jalan. Akibatnya orang bisa aja tertabrak atau malah si pengendara motor yang tertabrak mobil yang lewat.

Sebaliknya, jika kita berada didalam bus atau busway atau kendaraan umum lainnya. Terkadang kita pas lagi apes ketemu deh sama supir yang ugal - ugalan. Ngebut misalnya sambil berbincang - bincang di handphone. Memang sih dengan ngebut kan jadi cepat sampai. Tapi sampainya kemana dengan kecepatan yang ugal - ugalan seperti itu? Dan terus terang saja kalau mereka ugal - ugalan bagaimana mau memperhatikan jalan?

Tidak ada orang yang ingin mengalami kecelakaan atau menjadi penyebab suatu kecelakaan. Walau kita sudah memastikan diri sendiri tiap hari untuk berhati - hati tetap saja pada suatu saat kita bisa lengah dah akhirnya terjadilah hal yang tidak diinginkan.

Kebayang sama gue apa jadinya kalau kita yang jadi keluarga korban yang ditabrak itu. Kebayang sama gue kalau kita adalah si supir yang menabrak itu, entah sengaja atau tidak. Kebayang sama gue perasaan penumpang di dalam busway tersebut yang merasa kaget, panik, takut tapi fakta memaksa mereka menyadari akan terlambat sampai ke tempat tujuan. Jika berada di dalam busway, penumpang tidak bisa sembarangan turun dan melanjutkan perjalanannya. Jika berada di dalam halte busway penumpang yang tidak tahu apa - apa hanya bisa menunggu busway yang tidak akan datang dalam waktu lama dikarenakan kecelakaan tersebut.

Turut berduka untuk setiap nyawa yang telah direnggut... Turut berduka untuk kecelakaan yang semestinya tidak terjadi...

Senin, 14 Februari 2011

CAR FREE DAY


Pada waktu pertama kali diadakan di tahun 2007 (dapat contekan dari wikipedia) jalan - jalan besar ditutup dan hanya bus serta busway yang boleh lewat. Kayaknya waktu pertama kali diadakan hampir seharian deh jalanan besar ditutup. Awalnya sih kita yang gak punya mobil dan lebih mengandalkan naik kendaraan umum tentu menyambut acara Car Free Day Ini. Gimana enggak? Kita bisa menikmati jalan - jalan di jalanan utama yang biasanya penuh sesak sama mobil dan bus. Banyak orang mengendarai sepeda seliweran. Dan tentunya kesempatan foto - foto di sekitar bunderan Hotel Indonesia.

Maksudnya Car Free Day konon buat ngurangin polusi udara. Boro - boro mengurangi, dengan padatnya mobil di jalur lambat karena penduduk tetap menggunakan jalan tersebut. Akhirnya ya tetap aja ada polusi. Orang juga jadi jengkel karena mereka gak tau kapan jelasnya CAR FREE DAY ini diadakan. Awalnya hanya sebulan sekali. Ternyata sekarang dengar - dengar diadakan dua kali dalam sebulan yaitu minggu kedua dan keempat.

Jadi apa ada gunanya CAR FREE DAY ini ya tergantung masing - masing pihak sih... Ada yang seneng karena bisa menikmati jalanan raya yang biasanya dilalui hanya oleh kendaraan saja. Tapi lebih banyak lagi yang jengkel karena perjalanannya jadi terhambat. Apalagi kalau mereka tidak tahu jadwal tepatnya acara ini diadakan.

Mungkin kurang pemberitahuan ke masyarakat?

Rabu, 09 Februari 2011

Bahaya di sekitar kita

Beberapa hari yang lalu gue sempet membaca tentang seorang anak sekolah yang dilempar dari kereta api oleh kawanan perampok…

Membaca itu gue jadi miris dan bertanya – tanya dalam hati, apakah merampok belum cukup ya buat orang – orang itu sehingga merasa perlu untuk melempar korbannya keluar dari kereta api yang sedang melaju kencang. Tujuannya tentu gak hanya melukai korbannya tapi memang sekaligus untuk memastikan tidak ada saksi yang bisa melaporkan mereka ke polisi.

Gara – gara membaca itu juga membuat gue jadi rada jiper juga untuk mencoba naik kereta untuk menuju suatu tempat. Masalahnya perampokan itu terjadi ketika gerbong kereta sedang sepi. Dan gue sebenarnya penyuka tempat – tempat yang sepi. Yah, tau sendiri kan kalau penumpang lagi padat tuh gak bisa ngapa-ngapain. Berdiri dengan benar supaya jangan jatuh aja udah susah payah. Apalagi aktifitas yang lain seperti berkomunikasi lewat hape (nyari gara – gara), motret (halah ini mah bener – bener nyari penyakit) atau membaca buku.

Sepertinya kita tidak bisa membiarkan diri terlena dengan suasana tenang dan nyaman karena bisa saja dimanfaatkan oleh orang – orang yang bertujuan tidak baik. Memang menyenangkan menikmati suasana sepi di bus atau dalam kasus tadi di gerbong kereta api. Namun sebaiknya segera pindah ke gerbong lain jika bisa (gak pernah naik kereta sih jadi gak tau situasinya) atau turun dari bus jika ada perasaan tidak enak.
Jika belum terbiasa dengan angkutan umum yang mengarah ke tempat yang dituju mungkin jangan terlalu memperlihatkannya pada orang lain. Atau terlalu larut dalam lamunan sehingga mengurangi kewaspadaan diri sendiri. Gak meminta kita jadi paranoid sih. Tapi gak ada salahnya kan tetap waspada akan hal di sekeliling kita agar tidak mencelakakan diri sendiri.