Karena bus di Indonesia khususnya di Jakarta gak punya tempat buat langsung meletakkan koin sendiri makanya si supir butuh yang namanya asisten alias kalau di bus biasa dikenal dengan kenek.
Kenek fungsi utamanya jelas buat nagih - nagih ongkos ke penumpangnya. Kadang gue mikir juga kok dia bisa inget semua ya mana yang belum ditagih dan mana yang udah. Pertanyaan ini akhirnya terjawab juga dengan kepastian bahwa TIDAK, si kenek gak inget siapa yang udah bayar atau belum. Pikir punya pikir, mereka semua mengandalkan refleks para penumpangnya aja. Coba deh kalau kita di bus, terus ada yang lewat sambil bawa duit lecek dan uang receh yang berbunyi krecek, krecek...pasti kita sebagai penumpang otomatis langsung merogoh kantong dan memberikan ongkosnya. Nah, kata temen gue sih kalau mau nekat nge-tes coba aja kasih muka kosong pas ditagih. Atau sekalian bilang udah bayar dari tadi. Resikonya paling diliatin penumpang lain yang tau kita dari tadi tuh belom bayar. Huahahaha... Tapi tenang aja, gue belum segila itu kok...
Selain menagih ongkos, kenek juga berfungsi untuk berteriak - teriak ke para calon penumpang yang lagi bengong di halte tentang arah tujuan dari bus. Ini juga berguna supaya orang jangan asal naik bus karena tujuan boleh sama misalnya ke terminal bus di daerah X. Tapi rute yang diambil bisa beda - beda.
Fungsi lain yang suka bikin kesel adalah karena mereka juga bertugas mengatur penumpang di dalam bus supaya ruang bus yang udah sempit itu bisa disesakin lebih banyak penumpang. Coba aja bayangin, udah gak ada tempat buat bergerak eh si kenek ini masih aja mondar mandir di sela - sela tubuh manusia yang udah banyak itu. Belum lagi kalau dia ngedorong - dorong meminta kita (dengan paksa) agar masuk ke area belakang bus. Tapi giliran kita sudah berada di area belakang, eh disuruh lagi masuk menuju area depan. Gue pernah nyalak nih gara - gara ini sampai si kenek itu menggerutu supaya gue naik taksi aja kalau gak mau diatur. Hahahaha...
Jarang banget ketemu kenek yang ramah soalnya gue rasa setelah seharian di dalam bus menjalani udara panas, kadang juga hujan...gimana juga masih bisa bersikap ramah sama penumpang? Kita udah dianggap gak lain daripada komoditi yang mesti diangkut dan diambil uangnya. setelah itu sih terserah aja deh mau dibuang kemana.
Makanya gue rada surprise pas pagi - pagi kemarin ketika naik bus yang ampun deh penuhnya, si keneknya baek banget. Jadi, karena bus yang gue naikin itu padat sama penumpang, kita - kita yang baru naik itu sampai susah buat masuk kedalam. Akibatnya gue dan seorang ibu harus berdiri di dekat pintu masuk. Melihat posisi berdiri kita yang sepertinya gampang banget kelempar keluar si kenek terus - terusan mengingatkan supaya kita jangan lupa pegangan. Dan di raut wajahnya itu terlihat jelas kalau dia khawatir kita - kita bakal terdorong dengan sukses keluar kalau supir ngerem mendadak dan semua orang terdorong ke depan. Oke lah mungkin dia khawatirnya gak murni buat kita para penumpang, karena kalau kita sampai jatuh maka masalah bisa jatuh menimpa mereka. DAn itu artinya menghambat mereka dalam mencari nafkah.
Seperti juga banyak orang lain yang gue jumpai di bus, kadang kita bisa bertemu dengan yang baik namun lebih sering kita bertemu dengan yang menjengkelkan... Mungkin sama aja dengan kita yang baru bisa baik kalau masih pagi hari atau ketika lagi mood-nya enak.
Tergantung kita lagi ngadepinnya gimana (gue lagi sok bijak padahal sih...beeeeuuuh)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir buzzers :)