Selasa, 01 Mei 2012

Bayar dong


Kalau biasanya gue memuat tentang omelan dari diri sendiri, sekarang iseng ah dibalik... Mungkin gue pernah memuat topik ini tapi gak detail alias curhatan dari 1 orang supir... Jadi sekarang, mau bikin nih ceritanya


Mikrolet itu ongkosnya beda sama bus. Kalau bus , mau jauh atau dekat itu ongkosnya sama. Tepatnya, mau berdiri atau dapat tempat duduk ya teorinya ongkosnya ya sama aja. Tapi tentu saja banyak orang gak rela membayar ongkos full apalagi kalau mereka naik bus hanya gara-gara malas jalan kaki alias sebenarnya jaraknya dekat.  Ternyata di mikrolet pun orang sering males membayar ongkos full. Di mikrolet, tergantung seberapa jauh jarak yang ditempuh. Semakin pendek jaraknya ya semakin murah juga. Tapi, udah begini pun orang masih berusaha juga bayar dibawah ongkos standard. Dan siapa biasanya yang paling males bayar full? Gak lain gak bukan adalah ibu-ibu. Gak bisa disalahin juga sih karena mereka memang administrator keuangan dirumah. Jadi yang dirasa bisa di hemat ya kudu dihemat.

Tapi gak selalu ibu-ibu juga sih. Suatu hari pas gue naik mikrolet, turunlah seorang bapak dengan dua anaknya dan jreng...dia hanya membayar ongkos untuk 1 orang. Penumpang yang duduk di sebelah si supir iseng bertanya setelah supir kembali menjalankan mobilnya.

"Kok dia hanya bayar buat 1 orang? Padahal tadi anak-anaknya saya lihat dari kaca spion duduk dan gak dipangku...?" Dan dengan kalemnya si supir pun menjawab,"Wah, banyak bu yang seperti itu... Ngeselin sih, tapi saya males marah-marah... Capek..."

Hahahaha, jarang loh gue ketemu supir model begini... Masalahnya bukan apa-apa sih, supir yang jengkel karena penumpangnya membayar kurang dari ongkos yang semestinya pasti jadi bad mood. Biasanya ada yang mengomel,"Dikira masih jaman penjajahan Belanda dengan ongkos segitu?" Mungkin dia kesel karena alamat setorannya berkurang. Dan efeknya bukan bagi si penumpang yang udah melenggang pergi dengan membayar kurang dari semestinya. Tapi bagi penumpang lain yang ada di dalam mikrolet. Alamat jantungan karena supir langsung ngebut gila-gilaan melampiaskan kekesalannya. Atau malah, dia menyuruh penumpang yang masih ada untuk pindah ke mikrolet lain. Apesnya, kalau sampai gara-gara ngebut itu terjadi kecelakaan...

Yang jadi gue perhatikan juga, kalau si supir gak jutek...penumpangnya justru yang ngeselin... Sampai bikin penumpang lain ikutan kesel

Jadi, masa iya kita perlu ketemu sama supir yang judes dulu baru mau bayar full dan memanfaatkan kebaikan hati supir yang kalem untuk bayar gak semestinya?

5 komentar:

Unknown mengatakan...

kasihan juga tuh supir. mereka kan juga ngos-ngosan cari uang tuh. btw, bukumu aja yg kubeli deh. hehehe..berapa sama ongkirnya? kan alamatmu di Jakarta juga ya?

Ria Tumimomor mengatakan...

Iya, kita sm2 di Jkt ;)

mak beL mengatakan...

Hahahhaaa...saloet buat si supir !!! Betul itu mba, untuk menciptakan keadaan aman sentosa berkendaraan umum hrs ada kerjasama penumpang dan supir...

Betewe, hebat Mba Ria udh punya buku sendiri. Bisa beli dmn mba? Kudu mesan ya?

Unknown mengatakan...

Paling adil ya, pasang pengumuman di pinggir pintu, "Jauh-dekat ongkosnya Rp X,-" Tagih bayarnya di muka sebelum kendaraannya jalan.
Cara begitu nggak bikin dosa, sama-sama enak karena sudah ada pemberitahuan.

Ria Tumimomor mengatakan...

@Bella bukunya lagi abis stock-nya di akuuuu :D nanti aku kasih tau deh

@Vicky kalau ada perubahan tarif biasanya mrk pasang. Tp lama2 pengumumannya rusak dan gak keliatan lagi deh

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir buzzers :)