Apa yang paling gue benci kalau sedang berada di angkot termasuk busway? Nature calls.
Bener-bener saat yang paling menderita banget kalau pas berangkat terburu-buru dan harus mengalami kejadian yang memang tidak bisa dihindari itu.
Kenapa? Karena halte busway yang gue tahu tidak ada yang namanya toilet umum. Gak ngerti juga ya bagaimana caranya para pekerja di halte busway kalau ada kebutuhan mendesak. Apa lagi ke mall terdekat atau malah ke rumah penduduk?
Jadi, apa yang gue lakukan kalau sudah berada dalam situasi yang gak enak itu? Mau apalagi? Meringis-ringis sambil berdoa semoga cepat sampai di halte tujuan. Semoga dapat tempat duduk. Semoga masih bisa duduk di lantai busway. Semoga AC-nya gak menerpa ke gue karena bikin tambah meringis. And so on. Soalnya penderitaan masih panjang. Sesampainya di halte busway gak tau ada restroom apa enggak. Kemungkinan besar gak ada jadi masih harus jalan lagi untuk mencari restroom terdekat dimanapun itu.
Sebenarnya memang serba salah juga sih kalau halte busway punya restroom. Bukan apa-apa tapi halte yang dilalui oleh banyak orang mulai dari matahari belum nongol sampai gilirannya bulan muncul itu selalu kotor. Padahal selalu disapu sama petugasnya tapi yah begitu deh. Jadi, kalau sampai ada restroom untuk umum, gue gak bisa bayangin bakal seperti apa suasananya nanti. Paling berabe kalau air di dalam restroom mampet. Boro-boro ada tissue. Tissue gak ada bukan karena gak disediakan tapi ada aja orang yang berhasil membawa pulang. Jangan tanya gimana caranya.
Kalaupun sampai di sediakan rest room untuk umum, kebersihan tidak bisa dijaga hanya oleh petugas kebersihan tapi juga seluruh pengguna. Masalahnya, apakah kita bisa untuk turut disiplin dalam menjaga kebersihan? Buang sampah aja males nyari tempatnya? Kalau begitu, ya siap-siap deh berlari keluar dari halte busway setiap kali dalam keadaan terdesak alias nature calls.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir buzzers :)