Jumat, 01 Oktober 2010
Masalah keamanan
Naik kendaraan umum di Jakarta itu memang dilematis. Kalau penuh, rasanya gondok abis. Selain kepanasan, harus berdempet - dempet dengan orang lain, pegel abis karena tidak dapat tempat duduk dan berdiri untuk waktu yang tidak sebentar. Dan tentunya jangan dilupakan soal pencopet yang bergerayangan. Belum lagi orang - orang yang punya hobi "sesat" dengan melakukan pelecehan seksual di bus. Kalau sudah begitu yang ada di dalam pikiran adalah khayalan seandainya kendaraan umum tidak terlalu penuh. Kita tidak seperti diburu - buru ketika hendak naik ataupun turun. Tidak perlu kejepit sama penumpang lain ataupun barang bawaan mereka.
Tapi, begitu kendaraan yang dinaikin kosong...coba aja kalau kita gak merasa deg - degan. Beberapa tahun yang lalu pernah terjadi penodongan di dalam kendaraan omprengan. Ketika si penumpang naik, di dalam hanya ada beberapa orang yang tentunya dikira penumpang lain. Ternyata, sopir dan para penumpang palsu itu bekerja sama dan beraksi menodong serta merampok penumpang yang baru masuk tadi. Sementara di dalam kendaraan umum, jika hanya ada beberapa orang pikiran yang melanda adalah, ini penumpang beneran apa sekawanan penodong yang berpura - pura menjadi penumpang? Berapa banyak yang penumpang beneran dan mana yang tidak?
Yah, jujur aja sih gue juga gak bisa kasih saran selain mungkin mengikuti insting dari diri sendiri. Biasanya insting jarang salah walau di mata orang lain yang berasal dari luar daerah, kita bisa dianggap paranoid dan mengada - ada.
Jika sudah keburu naik kendaraan dan merasa gak enak berada di dalam, jangan segan - segan turun walau tujuan masih jauh. Jangan ketakutan rugi ongkos yang tidak seberapa dibanding dengan kerugian mental akibat kaget karena penodongan. Tentunya kerugian material bisa jadi lebih banyak daripada sekadar rugi ongkos.
Gue juga pernah kok memutuskan turun dari taksi karena merasa supirnya rada - rada nyebelin. Dikasih tau mesti lewat jalan mana, disanggah melulu... Akhirnya gue memutuskan untuk turun di rumah teman padahal tujuan gue masih jauh. Tapi daripada sepanjang perjalanan gak tenang. Akhirnya gue pindah ke taksi lain.
Sering kita dengar bahwa taksi yang dari perusahaan ini dan itu sudah terkenal supir - supirnya tidak bisa dipercaya. Sementara dari beberapa perusahaan tertentu, sudah bisa jadi jaminan mutu akan keamanan dan pelayanannya. Bahkan sampai jadi langganan banyak kantor untuk para pekerjanya. Sebenarnya gak selalu seperti itu.
Kalau kita perginya beramai - ramai, kecil kemungkinan kita bakal ditodong sama supir atau rekanannya. Tapi kalau lagi sendirian tentunya mesti lebih ekstra hati - hati. Dan percayalah sama insting kita. Sama banyak - banyak berdoa.
2 komentar:
setuju. jadi inget sama pengalamanku wkt naik taksi sendirian dari pondok indah ke sunter. dibawa nyasar sampai ke pasar rebo and cililitan. hmmm...jadi mahal deh ongkosnya.
kalo di bus atau di taksi sih saya blm pernah, tp d jembatan penyeberangan pernah tarik2an tas sama jambret ^^
salam kenal ^^
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir buzzers :)